Momentum Membangun Desa

Saya adalah anak yang lahir dan besar di desa. Kebun dan sungai adalah taman bermain saya dimasa kecil. Ada banyak hal-hal baik yang saya temukan di desa, yang kemudian membentuk dan menempa karakter saya hingga hari ini.

Saya ingat dua puluh tahun yang lalu, di desa kami hanya ada satu orang yang memiliki televisi. Lalu kemudian kami sekampung menumpang nonton dirumah tetangga kami tersebut. Satu TV yang nonton orang sekampung.

Saya juga ingat tiap kali ujian sekolah dimasa SD, tidak ada satu orang dari kami yang berani menyontek. Boro-boro menyontek, berpikir untuk menyontek pun tidak. Takut dan malu. Jadi semua nilai yang kami terima adalah nilai kami apa adanya.

Kejujuran, keramahan, tolong menolong, gotong royong dan banyak karakter baik lainnya adalah hal-hal baik yang saya temukan di desa.

Ketika beranjak remaja, saya meninggalkan desa untuk pertama kalinya. Saya harus melanjutkan pendidikan SMA yang pada masa itu belum ada di desa kami. Saya kaget ketika bersekolah di kota. Semua keburukan yang tidak pernah saya lihat di desa, dilakukan oleh anak-anak pelajar kota. Menyontek, bolos sekolah, tawuran, merokok, minum, bullying, dll dilakukan secara terbuka didepan umum. Dalam pikiran saya kala itu kota ini sarangnya dosa.

Tapi semakin saya dewasa, yang terjadi malah sebaliknya. Saya sedih, semua keburukan yang saya temukan di kota telah menjangkiti pelajar-pelajar didesa. Meerokok, minum, tawuran sekarang adalah hal biasa yang dilakukan pelajar dan anak muda desa.

Sayangnya, desa amat berbeda dengan kota. Betapapun buruknya orang-orang kota, kamu masih akan menemukan banyak lingkaran kebaikan dikota dalam bentuk forum, kajian, lembaga, organisasi, komunitas. Sependosa apapun orang kota, tapi di kota pulalah terkumpul para alim ulama, terkumpul tokoh-tokoh panutan, terkumpul orang-orang baik yang tidak berhenti menyebarkan kebaikan kepada sesama. Forum, lembaga dan komunitas tadi juga menjadi ruang-ruang alternatif anak muda kota mengeskpresikan hal-hal baik, dan tersedia secara melimpah di kota.

Di desa, ruang-ruang alternatif ini jarang sekali ditemukan. Khusus pada level anak muda, sulit menemukan ada tokoh pemuda inspiratif, yang jadi teladan bagi anak-anak muda lainnya. Didesa juga jarang terdapat forum atau komunitas, tempat anak muda bebas mengekspresikan diri, membuat karya, dan menyebarkan kebaikan pada sesama. Alhasil banyak anak-anak muda di desa menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang produktif, nongkrong, merokok, minum, tawuran.

Tapi kemana pemuda-pemuda inspiratif yang dimiliki desa? Mereka pergi ke kota dan tidak kembali. Coba tengok, para tokoh-tokoh inspiratif kita yang ada di kota. Mereka adalah anak-anak desa yang mencoba peruntungan hidup di kota. Mau kembali pun, desa tak memiliki ruang untuk menampung mereka. Tidak ada tempat dimana mereka bisa berbagi pengetahuan sekaligus berkarir di desa.

Solusi dari persoalan ini ialah political will dimana desa melalui APBDes nya harus menghadirkan program-program yang bisa mengundang anak muda terbaiknya pulang kembali ke desa. Berikan mereka ruang untuk kembali membangun desanya. Program untuk anak muda juga jangan lagi hanya sebatas event olahraga, tapi peningkatan softskill, pengetahuan dan kewirausahaan agar anak-anak muda di desa juga bisa berkembang sebagaimana anak-anak muda di kota. Melahirkan ruang-ruang alternatif bagi anak-anak muda desa untuk berkarya adalah sesuatu yang harus ada bila ingin membangun Indonesia dari desa.

Beruntungnya saya bertemu Masykur Sahib, salah satu anak muda kece yang mengikuti program Pemuda Mandiri Membangun Desa dari Kemenpora. Melalui programnya, ia mengajak saya untuk berbagi keresahan seputar ini, di desa saya sendiri, di Karya Mukti.

Ah ini adalah momen yang saya nantikan sejak lama. Ada banyak ide yang semoga bisa kita kolaborasikan untuk membangun desa kita.

Satrio Amrullah

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar