Mengapa Minat Baca Kita Begitu Rendah?

Minat Baca - Satrioamrullah.com (3)

Suatu hari di ruang tunggu keberangkatan bandara Soekarno Hatta saya mendapati satu fenomena menarik. Dua orang dari dua suku bangsa yang berbeda, memanfaatkan waktu menunggu dengan cara yang berbeda pula. Yang satu asyik dengan buku bacaanya, satunya lagi larut dengan smartphonenya.

Dilain kesempatan, saya pernah diundang sebuah lembaga penalaran kampus mengisi materi tentang kepenulisan. Disela materi saya bertanya kepada seluruh peserta yang semuanya adalah mahasiswa, “siapa saja disini yang membaca buku minimal 5 buah dalam satu tahun?” Dari 40-an peserta dikegiatan tersebut yang angkat tangan kurang dari 5 orang.

Sedihnya: yang saya tanya adalah mahasiswa, tema kegiatannya seputar kepenulisan, dan yang mengundang sebuah lembaga penalaran kampus.

Tanpa bermaksud rasis, tampaknya memang membaca belum menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Bahkan pada mereka yang kita sebut sebagai generasi terpelajar sekalipun.

Berbagai lembaga survey dunia berkali-kali merilis fakta itu. Sebut saja Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), yang pada tahun 2015 merilis data tingkat literasi Indonesia berada diurutan 62 dari 70 negara. Peringkat literasi dengan tajuk “World’s Most Literate Nations” juga diumumkan oleh Central Conecticut State University (CCSU) pada Maret 2016, lebih parah, menempatkan Indonesia pada urutan 60 dari 61 negara.

Mengapa minat baca kita serendah ini? Padahal di negeri ini berdiri Perpustakaan Nasional tertinggi di dunia sekaligus terbesar se-Asia Tenggara. Negeri ini juga memiliki Hari Buku Nasional (meski telah ada Hari Buku Dunia) yang diperingati setiap tanggal 17 Mei. Sebuah hari peringatan yang saya yakini hanya dirayakan kurang dari 5% masyarakat kita.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ada beberapa alasan yang dapat saya simpulkan dari diskusi dan bacaan kawan-kawan pegiat literasi.

Pertama, faktor budaya. Mayoritas daerah di Indonesia memang lebih mengenal budaya tutur/lisan ketimbang tulisan. Aktivitas literasi kerap kali diturunkan melalui cerita rakyat, dongeng, ceramah, pagelaran wayang, dll. Sementara itu, pengetahuan terhadap baca-tulis kerap kali hanya dimiliki oleh kaum bangsawan dan segelintir orang.

Bukti lain ialah hanya ditemukan 12 aksara lokal dari 646 bahasa daerah se-Indonesia. Ke-12 aksara lokal tersebut meliputi aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis/Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci/Rencong. Di Papua yang memiliki bahasa daerah terbanyak (376 bahasa), bahkan tidak dijumpai satu aksara lokal sekalipun.

Tak mengherankan bila kemudian 97% penduduk Indonesia buta huruf ketika negara ini mendeklarasikan kemerdekaanya.

Kedua, akses ke buku yang sulit. Banyak pegiat literasi yang saya kenal menolak anggapan bahwa minat baca orang Indonesia hari ini sangat rendah disebabkan faktor malas membaca. Mereka meyakini sedikitnya orang Indonesia yang membaca disebabkan disebabkan kurangnya akses memperoleh bahan bacaan.

Minat Baca - Satrioamrullah.com (2)
Komunitas Perpustakaan Trotoar di Malang. Dok: Istimewa (2008)

Keyakinan ini mereka buktikan dengan berbagai aksi mendekatkan buku ke tengah masyarakat, seperti mendirikan TBM, mengadakan perpustakaan keliling atau membuka lapak baca di berbagai tempat. Hasilnya tidak sedikit orang tertarik untuk ikut berpartisipasi dan membaca.

Faktor lain terkait akses ialah terbatasnya ragam buku berkualitas yang menarik orang untuk membaca. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu keinginan orang untuk membaca juga bergantung dari jenis buku bacaan yang tersedia. Seringkali perpustakaan sepi oleh pengunjung disebabkan koleksi buku yang dimiliki kurang berkualitas dan tidak menarik minat orang untuk membaca.

Ketiga, peran pemerintah. Pemerintah melalui institusi pendidikan dasar seharusnya memperkenalkan tradisi membaca sejak dini. Hal baik yang perlu dicoba adalah mewajibkan setiap anak membaca buku non pelajaran 15 menit sebelum belajar dikelas atau membawa pulang buku seminggu sekali sebagai PR untuk dibaca, mencari kosakata baru, menyusun kalimat, dll.

Pemerintah juga perlu menghadirkan buku-buku murah ketengah masyarakat dengan cara menghapus PPh untuk semua produk buku. Penghapusan PPh juga diberikan kepada para penulis agar mereka termotivasi untuk terus menghasilkan buku berkualitas.

Program pengiriman buku gratis dari POS Indonesia juga rasanya perlu diperluas, tidak hanya menjangkau pengiriman ke Perpustakaan atau TBM saja tetapi juga kerumah-rumah warga. Dengan subsidi ini orang dapat membuat program tukar buku, atau menikmati murahnya ongkos kirim ketika membeli buku secara online.

Terobosan baik yang dilakukan pemerintah ialah Ipusnas, meski demikian sosialisasinya sangat rendah sehingga banyak masyarakat yang belum tahu bahwa mereka dapat membaca ribuan koleksi buku perpusnas melalui gawai mereka secara gratis.

Terakhir, kesadaran diri. Harus diakui kesadaran kita akan arti pentingnya membaca memang masih rendah. Mayoritas orang Indonesia lebih menyukai menonton (91%), ketimbang membaca (17%). Buku juga tidak termasuk barang daftar belanja perioritas orang Indonesia. Artinya buku memang belum jadi investasi bagi kebanyakan kita.

Tapi daripada mengutuk kegelapan, mending mencoba menerangi kamar sendiri. Mustahil kita dapat mengajak orang lain untuk gemar membaca kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri.

Buat kamu para pejuang dan pegiat literasi dimanapun berada jangan patah arang melihat kenyataan ini. Sebaliknya, terus bergerak dan berjuang demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selamat Hari Buku Nasional 2020

Satrio Amrullah

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar