Agustus Yang Spesial

Bulan Agustus akan selalu jadi bulan yang spesial buat saya, pertama bulan ini adalah bulan kelahiran ibu saya, beliau lahir tepatnya tanggal 10 Agustus 1969.

Tiga tahun lalu dibulan Agustus juga, ibu saya operasi angkat rahim. Momen dimana saya menguburkan rahim ibu saya (yang saya bayangkan adalah tempat dimana saya bersemayam saat dalam kandungan) adalah momen yang tidak pernah bisa saya lupakan.

Kesedihan itu semakin bertambah manakala dihari yang sama pasca ibu saya operasi, saya dapat kabar wanita yang dekat dengan saya akan menikah dengan orang lain. Padahal dalam rencana hidup, dialah yang saya persiapkan sebagai kado spesial untuk ibu dan anak-anak saya nantinya. Maka saya selalu ingat Agustus tahun itu adalah Agustus yang penuh kesedihan.

Mundur lima tahun kebelakang, juga pada tanggal yang sama, tanggal 10 Agustus, bersama teman-teman saya mendirikan komunitas anakUntad. Tempat dimana saya bertumbuh, menemukan ruang berekspresi serta berkarya bersama kawan-kawan selama masa studi. Maka pada tanggal tersebut kami merayakan HUT komunitas dengan riang gembira.

Di bulan ini juga, dua tahun lalu, saya menamatkan studi saya setelah berkuliah 7 tahun lamanya. Saya diwisuda tepatnya pada tanggal 16 Agustus. Bertepatan dengan pengambilan sumpah prasetya alumni saya berikrar akan membaktikan diri saya sepenuhnya untuk kemaslahatan orang banyak, bangsa dan negara. Bagi saya hari itu adalah starting poin perjuangan hidup saya yang sesungguhnya, perjuangan untuk menuntaskan janji dan menggapai mimpi-mimpi.

Dan terakhir, the bigest spesial moment in Agustus adalah HUT RI. Agustus barangkali bukan hanya bulan yang spesial bukan hanya buat saya, melainkan juga buat seluruh warga negara Indonesia. Dibulan ini, 74 tahun yang lalu Indonesia sebagai sebuah bangsa memplokramirkan kemerdekaannya.

Bagi saya tanggal 17 Agustus akan selalu jadi pengingat bagi diri, bahwa perjuangan saya hari ini (untuk bangkit, menuntaskan janji, dan menggapai mimpi-mimpi) jauh lebih mudah bila dibandingkan perjuangan kakek dan nenek buyut kita dimasa lalu.

Dinegeri ini, saya, adik, ayah, ibu, kakek dan nenek dilahirkan. Dinegeri ini pula kelak kami kan disemayamkan. Pernah lahir dan hidup di negeri yang aman dan nyaman ini adalah nikmat yang tak terkira. Maka sebisa mungkin saya mensyukuri nikmat tersebut dengan mengisi dan membaktikan diri untuk kemaslahatan masyarakatnya dan negeri ini.

Dirgahayu Indonesiaku.

Palu, 17 Agustus 2019

SA

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar