#10 Terpesona Eksotisme Warisan Sejarah

Yang membuat Pulau Banggai ini eksotik bukan saja karena potensi ekowisatanya yang luar biasa melainkan juga sejarah terbentuknya.

Dahulu, di sebuah daerah, di ujung timur provinsi Sulawesi Tengah ini, tepatnya di pulau Banggai berdiri empat kerajaan kecil empat kerajaan kecil yang berdaulat atas wilayahnya masing-masing: Babolau, Singgolok, Kokini (desa saya :D), dan Katapean. Tidak ada literatur yang dapat memastikan tahun berapa keempat kerajaan itu berdiri. Dalam Babad Banggai Sepintas Kilas, misalnya, hanya menyebut keempat kerajaan itu masih berdiri pada abad ke-15.

Keempat kerajaan ini saling berperang satu sama lain untuk memperluas wilayahnya, akibatnya pertahanan mereka melemah karena perang saudara. Pada abad ke-15 kerajaan Ternate berhasil menduduki pulau Banggai dan menaklukan ke empat kerajaan kecil tersebut.

Pada awal abad ke-16, Adi Cokro, Panglima Perang Kesultanan Ternate yang berasal dari Jawa, kemudian menyatukannya menjadi satu kerajaan, yaitu Kerajaan Banggai yang beribukota di Pulau Banggai. Adi Cokro inilah yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai. Oleh Adi Cokro, keempat rajanya kemudian dijadikan Basalo Sangkap yang terdiri dari Basalo Dodung (Raja Babolau), Basalo Gong-gong (Raja Singgolok), Basalo Bonunungan (Raja Kookini), dan Basalo Monsongan (Raja Katapean). Kerajaan Banggai pun berekspansi, dari semula wilayahnua hanya Banggai Laut dan Banggai Kepulauan kemudian meluas sampai ke Daratan Sulawesi (Kabupaten Banggai). Pada akhirnya kerajaan Banggai memisahkan diri dari kesultanan Ternate dan mengangkat raja sendiri yang berdaulat.

Kerajaan Banggai di kenal sebagai kerajaan yang sangat anti penjajahan. Pada masa penjajahan banyak raja-raja Banggai yang di tangkap dan asingkan ke Maluku. Sampai hari ini kita masih bisa menemukan sisa-sisa peperangan antara Belanda dan kerajaan Banggai berupa, senapan dan meriam yang tersimpan dalam keraton Banggai.

Kini, seiring perkembangan zaman kerajaan Banggai hanya menjadi simbol dan sejarah. Sama seperti kebanyakan kerajaan yang pernah berdiri di nusantara. Sejak berdiri hingga hari ini telah berganyi sebanyak 20-an raja. Raja Banggai terakhir meninggal pada tahun 2010. Anaknya, putera mahkota masih terlalu muda untuk menerima gelar raja (masih SMA, sekarang kabarnya masih kuliah sama seperti saya :D). Karena itu pamannya yang kemudian di lantik sebagai raja hingga dirinya siap menggantikannya menjadi Raja.

Sangat menarik, saya bahkan tidak pernah menyangka desa yang saya tempati, Kokini dahulu merupakan sebuah kerajaan kecil. Sisa-sisa kerajaan Banggai masih dapat kita temukan disini (walaupun sedikit). Keraton Banggai misalnya, masih berdiri kokoh walaupun hanya terbuat dari kayu. Selain itu juga ada rumah ‘keramat’ yang menjadi kediaman bagi masing-masing Basalo. Ada juga batu tempat duduk yang digunakan ketika melantik raja Baru. Juga peninggalan-peninggalan kecil seperti senjata, pakaian adat, guci keramik, dll.

Yang paling di sayangkan adalah tidak adanya sumber tulisan yang mengisahkan kerjaan Banggai. Satu-satunya bukti tertulis yang menunjukkan kerajaan Banggai adalah Nagarakretagama karangan Mpu Prapanca yang bertarikh 1278 Saka (1365 M). Prapanca menamai Banggai
dengan Banggawi.

Sumber sejarah kerajaan Banggai ini hanya di wariskan melalui lisan-ke lisan hingga di nilai kurang akurat. Tapi ada yang menarik, ada sebuah mitos yang dipercayai masyarakat di sini, Sejarah Banngai terlalu keramat untuk diceritakan. Mereka percaya jika mereka menceritakan sejarah Banggai kepada orang lain maka seketika itu akan terjadi badai! Menarik

Sungguh, dengan segala potensi yang dimilikinya (pariwisata, sejarah dan adat-istiadat) Banggai dapat menjadi destinasi ekowisata utama Sulawesi Tengah. Hm saya jadi tertarik untuk menuliskan rekomendasi ini kepada Bupatinya.

Oh iya, pulau Banggai hari ini sedang berpesta. Tepatnya pesta rakyat desa. Kabupaten Banggai Laut yang belum lama berdiri ini, kini tengah merayakan ulang tahunnya yang pertama. Sejak kemarin hingga tanggal 22 nanti diselenggarakan peringatan Ulang tahun Banggai yang berpusat di lapangan pusat kota Banggai. Selain konser juga diselenggarakan ekspo kecil-kecilan. Produk kami (teh kulit manggis) rencanya akan di tampilkan. Hari ini, di seluruh desa di Pulau Banggai ini memasang bendera kerajaan Banggai (bendera belang-belang merah putih 13 tingkat) dan umbul-umbul waran-warni, merah, kuning, hijau, orange, biru, dll. Indahnya~
Saya sangat bersyukur dapat menyaksikan ini semua

Selamat ulang tahun yang pertama Banggai Laut

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar