#3 Syukur Dibatas Negeri

Hari ini kerja tim ekspedisi sungguh luar biasa.

Pagi hari melakukan “pembentangan bendera” merah putih 75 meter persegi di lapangan desa Sungai Limau, lapangan sepakbola yang unik, karena setengahnya milik Indonesia dan setengahnya lagi milik negara Malaysia. Pembentangan di lakukan dan disaksikan bersama seluruh masyarakat, pelajar, TNI AL dan AD dan kepolisian. Merinding rasanya menyaksikan upacara tak biasa ini, tak hanya konsep acaranya yang berbeda dengan upacara “pengibaran” bendera biasanya, upacara “pembentangan” bendera butuh perlakuan khusus, melainkan juga tempat pelaksanaanya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Menjelang sore hari, kami tim ekspedisi berkunjung ke sekolah Tapal Batas, yaitu sebuah sekolah dasar sederhana, berupa rumah panggung di daerah perbatasan pegunungan yang dibangun khusus untuk mendidik anak-anak TKI yg tak bisa memperoleh pendidikan di Malaysia. Para anak TKI ini umumnya tinggal di Malaysia bersama orang tuanya. Untuk bisa sekolah mereka harus menyebrang ke Indonesia, karena untuk sekolah di Malaysia mereka harus punya pasport, sementara orang tua mereka tidak mampu untuk membiayai pasport anak-anak mereka. Alhasil, tiap pagi dan sore hari mereka berjalan kaki menuju sekolah sejauh 3,5 km melewati pegunungan dan kebun sawit.

Dari sekolah ini, kami nekat berkunjung ke desa Bergusung, sebuah desa tempat tinggal para tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Asal anak-anak yang bersekolah di sekolah Tapal Batas ini. Nekat, karena kami tidak memiliki izin masuk ke negara Malaysia. Sehingga bila kedapatan oleh polisi Malaysia maka kami bakal ditahan dan diberikan sangsi oleh pihak kerajaan Malaysia.

Bermodalkan “jalan tikus” yang dibuat oleh anak-anak ini, kami akhirnya berhasil tiba dikampung WNI ini tanpa diketahui pertugas perbatasan. Seru rasanya bisa berkunjung dan bertemu mereka, warga negara Indonesia yang “terpaksa” menjadi TKI di negara tetangga, karena minimnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri. Keseruan yang luar biasa juga kami rasakan saat bermain dan gerakan minum susu bersama anak-anak mereka yang semangatnya untuk bersekolah patut di acungi jempol.

Disini kami belajar banyak hal, belajar mensyukuri kehidupan bahwa dengan kehidupan kami yang sekarang, kami bisa hidup dengan bebas, berbuat dan berkarya demi bangsa dan negara bukan di negeri orang, melainkan di negeri tempat kelahiran.

Sebatik, 15 Maret 2015

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar