#12 Semarak Ulang Tahun Bersama Rakyat

Upacara peringatan hari ulang tahun kab. Banggai Laut pagi tadi berlangsung sangat hikmat. Upacara di buka dengan pembacaan sejarah Banggai oleh penghulu keraton dimulai sejak zaman kerajaan hingga terbentuknya kabupaten Banggai Laut kini. Ini adalah sesuatu yang baru bagi saya, karena saya belum pernah menemukan upacara yang di dalamnya ada pembacaakan sejarah daerah kepada seluruh peserta upacara. Patut untuk dilestarikan. Setidaknya sejarah ini akan terus di ingat oleh warganya, terlebih oleh generasi barunya (anak-anak dan pemuda).

Seluruh komponen masyarakat hadir mengikuti upacara. Pemerintah provinsi, pemerintah daerah, Perangkat daerah, kepala desa bersama perangkatnya, ikatan adat, PNS, PKK, TNI, POLRI, Satpol PP, tokoh masyarakat, pemuda karang taruna, pelajar SD, SMP, SMA dan mahasiswa dari 4 perguruan tinggi. Serta yang paling spesial adalah kehadiran tokoh adat, Basalo Sangkap (4 senat kerajaan Banggai) dan Tomundo (Raja kerajaan Banggai).

Selain pembacaan sejarah juga ada penghormatan kepada bendera kerajaan Banggai yang di nobatkan sebagai lambang kab. Banggai Laut. Yang juga belum pernah saya temukan dalam upacara-upacara lainnya.

Di akhir upacara, diumumkan para pemenang lomba-lomba yang telah dimulai sejak seminggu lalu. Juga dibuka lomba baru, lomba pajat pinang. Yang di bagi dalam kategori dewasa dan anak-anak. Saya lebih tertarik melihat kategori anak-anak. Lebih seru untuk di nikmati.

Selain panjat pinang, juga dibuka stan pameran kab. Banggai Laut. Banyak hal menarik yang sempat saya perhatikan. Ada sekelompok musisi yang memainkan musik menggunakan seruling bambu. Namun yang ini anti mainstream. Seruling yang digunakan dari ukuran biasa hingga ukuran bambu tangga yang besar. Perpaduan suaranya sangat merdu di dengar. Sepertinya ini merupakan alat musik tradisional. Sayang saya tidak sempat bertanya lebih jauh. Juga ada tarian penyambutan yang pria-wanita sambil membawa senjata parang (golok). Saya tebak ini juga tarian tradisional. Lagi-lagi saya tidak sempat bertanya lebih jauh. Satu lagi yang menarik adalah adanya komunitas pelestari situs kerajaan Banggai. Dalam stannya yang saya masuki terdapat banyak sekali benda-benda zaman kerajaan yang mereka temukan. Dari barang hingga silsilah kerajaan mereka ketahui. Mereka sendiri telah berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan situs sejarah tersebut dengan cara mereka sendiri. Kekurangan yang saya perhatikan adalah perhatian pemerintah daerah. Sudah saatnya kota Banggai memiliki museum yang dikelola secara profesional untuk melestarikan situs sejarah tersebut.

Seolah tidak mau kehilanggan momen berharga saya pun bernarsis ria. Disemua stan dan tempat keramaian saya dokumentasikan. Saya punya niat ingin foto bareng bersama pak Bupati Banggai Laut, dan yang paling menggebu-gebu adalah foto bersama Tomundo dan Basalo Sangkap kerajaan Banggai. Namun sayang, nyali saya ciut ketika ingin mengutarakan niat tersebut di depan mereka -_-
Akhirnya Saya mesti puas narsis bareng para pengawal keraton. Sekitar belasan orang, mereka membawa bendera perang kerajaan Banggai, bendera pusaka merah-putih, payung peneduh warna kuning, dan senjata tradisional (tombak dan parang). Yah setidaknya ada dokumentasi lah. Daripada tidak ada sama sekali 😀

*Oh iya ternyata mitos yang beredar di masyarakat bahwa ketika pembacaan sejarah Banggai akan turun hujan, tidak terbukti. Sebaliknya upacara pagi tadi terik sekali. Walau memang ketika di akhir pembacaan matahari sempat di tutup oleh mendung/awan tebal. Wallahualam 🙂

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar