Refleksi 24 Tahun Lintas Waktu

24th

Pernahkah kamu merasa bahwa waktu terkadang berjalan begitu cepat tanpa terasa?

Seperti sebuah ungkapan, “tidak terasa ya ternyata sudah malam hari…

Atau “tidak terasa ya sekarang sudah tanggal 30….

Juga “tidak terasa ya ternyata sudah mahasiswa tingkat akhir perasaan baru kemarin rasanya jadi mahasiswa baru….

Dan lain sebagainya

Ternyata di dalam kehidupan kita ada momen dimana waktu dalam hidup kita… tidak terasa

Seperti halnya diri ini, tidak terasa 24 tahun sudah menjalani kehidupan.

***

Senin, 4 Januari 24 tahun silam ibu menghadirkan saya di dunia. Tidak banyak yang saya ketahui pada saat perisitiwa tersebut terjadi. Tapi dari berbagai cerita ibu menyebutkan bahwa anak pertamanya inilah yang melewati proses kelahiran paling sulit dan menyakitkan dari total tiga kali proses kelahiran yang pernah di alaminya.

Lahir di desa pedalaman yang baru dibuka, menyebabkan desa ini belum dimasuki oleh tenaga ahli bidan desa. Alhasil proses kelahiran dibantukan oleh dukun anak dengan arahan teknisnya yang hanya didasarkan pada pengalaman dan asumsi tanpa didukung pengetahuan medis modern. Sehingga proses kelahiran ibu hari itu cukup menyiksa bahkan nyaris mengancam nyawa ibu dan anaknya.

Alhamdulillah, pertarungan hidup dan mati itu dimenangkan oleh ibu atas izin-Nya. Hingga kemudian bisa merawat dan membesarkan saya bersama dua adik lainnya.

Atas izin-Nya pula ayah dan ibu memberikan saya nama Satrio Amrullah.

Masa Kecil


satrio-amrullah-tk-merpati
Usia 4 Tahun. Foto Dok. TK Merpati Jakarta Utara

Masa kecil saya terbilang menyenangkan. Sebab saya merasa bebas bermain, belajar dan mengeksplorasi dunia saya.

Ayah orang Jakarta. Ibu kelahiran Gresik. Tinggal, menikah dan melahirkan saya di Sulawesi. Terkadang saya merasa keluarga ini sedikit lucu. Tapi hal ini juga menyadarkan saya bahwa selalu ada cara Allah untuk mempertemukan hamba-Nya.

Kondisi ini juga yang menyebabkan masa kecil saya hidup nomaden. Kami hampir tidak punya rumah tetap hingga usia saya 6 tahun; balita di Poso dan Tomata, TK di Jakarta, beberapa bulan di Gresik hingga akhirnya memasuki usia SD kembali tinggal menetap desa kelahiran saya di desa Lembah Mukti kab. Donggala

Tetapi karena hal itu pulalah membuat saya merasa sangat bersyukur,

“Bahwa dimasa kecil lalu saya telah diperkenalkan akan luasnya dunia…”

Saya telah melihat beragam daerah dengan kehidupannya. Mendengar ragam bahasa dengan intonasinya. Menjejaki berbagai lokasi dengan sudut pandang yang berbeda. Mulai dari pedalaman sulawesi yang terpencil hingga megahnya ibukota negara. Menyaksikan para petani di hijaunya pematang sawah bahkan atraksi Lumba-lumba di tengah birunya laut jawa.

Saya bertemu banyak orang dibanyak daerah yang berbeda. Teman bermain tidak hanya dari satu etnis, melainkan dari beragam suku, budaya dan agama. Wawasan saya menjadi terbuka. Pengetahuan dan akumulasi pengalaman ini membentuk diri saya, membantu saya memahami bahwa negeri ini begitu indah. Bahwa dunia ini ternyata tak sesempit yang kita kira.

Pengalaman ini juga yang kemudian membentuk mimpi dan visi saya dikemudian hari.

Masa Remaja dan Usia Sekolah


satrio-amrullah-masa-sma
Masa SMA. Foto dok. pribadi

Diri saya tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Rasa ingin tahu yang tinggi mendorong diri untuk giat belajar dan banyak membaca. Kemampuan analogi dan matematika juga kian terasah. Sains, sejarah, sastra dan pengetahuan umum lainnya teras sangat enak untuk dibaca. Dunia masa remaja ibarat penuh rasa dahaga akan ilmu, sains dan pengetahuan.

Karakter, pola pikir, sikap dan prilaku juga semakin terbentuk. Kesadaran dan kematangan berpikir mampu mengendalikan diri untuk melakukan hal-hal bermanfaat. Serta membatu menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa di masa ini adalah masa mempersiapkan bekal untuk mewujudkan mimpi esok nanti.

Karena merasa berbeda saya pun tumbuh menjadi pribadi yang sedikit tertutup. Pendiam. Kurang pandai bergaul, cenderung penyendiri, serta melakukan hal-hal yang berbeda dari kawan sebaya. Akibatnya saya tidak memiliki teman akrab. Tak ada rekan berbagi dan bertukar mimpi-mimpi.

Namun dibalik semua itu selalu ada hikmah yang patut disyukuri. Bahwasanya menjadi berbeda adalah sebuah anugerah yang menjadi jejak pembeda antara diri kita dan banyak orang lainnya.

Masa Muda dan Kuliah

Masa muda adalah masa yang harus akan karya

Semua ide dan keinginan yang terpendam saat remaja seolah menemukan momentumnya untuk keluar dan berbuat. Bila dahulu cenderung pendiam maka dimasa ini mulai terbuka ke banyak orang. Bersuara, bergerak, mengutarakan gagasan dan pendapat. Diri tak dapat lagi menahan diam. Bila ada sesuatu yang dianggapnya keliru maka dia tergerak untuk membenahinya. Bila ada sesuatu yang dianggap perlu maka dia tergerak untuk mengaplikasikannya.

Kesadaran untuk mengambil peran mengubah keadaan memacu diri untuk tumbuh dan berkembang. Perlahan namun pasti, satu persatu karya dan buah pikir terus dilahirkan.

Seolah tak ingin ketinggalan, semesta pun menghadirkan banyak orang-orang yang “berbeda”. Mempertemukan kami dalam sebuah lingkaran pertemanan yang sama. Seperti yang saya bilang, selalu ada jalan Tuhan untuk mempertemukan hamba-hamba Nya. Bila dahulu tak punya rekan untuk berbagi mimpi, maka dimasa ini Tuhan pertemukan dengan banyak orang yang tak hanya berbagi namun juga mengajak untuk mewujudkan mimpi tersebut bersama-sama. Lingkaran pertemuan ini yang terus menguatkan diri untuk mempersiapkan tugas besar esok hari nanti.

Skenario langit memang tak pernah bisa ditebak arah tujuannya. Namun yang pasti Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum bila kaum tersebut tak berusaha mengubah dirinya sendiri

Dimasa ini juga saya mulai tertarik pada lawan jenis. Seolah ada ruang kosong yang menuntut diri untuk diisi. Tak bisa dipungkiri keinginan untuk mencari dan menemukan partner hidup terbaik juga terjadi dimasa ini.

Kini dan Nanti

Kini usia telah berkepalang dua, bahkan bertambah angka empat dibelakangnya

Masih banyak PR yang mesti saya tuntaskan. Termasuk satu kewajiban yang saat ini masih saya emban. Semoga tugas dan tanggungjawab ini segera dapat saya selesaikan. Lalu kemudian bergerak menggenapkan janji yang pernah terucapkan

Tantangan terberat diusia ini ialah menentukan jati diri. Memilih menjadi sosok apa yang akan dikenang nanti…

Meski mimpi telah terukir dalam benak. Namun jalan memperjuangkan mimpi tersebut tak hanya berkelok namun juga bergelombang. Realitas hidup mengajarkan saya bahwa harapan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Belum lagi cobaan dan rintangan yang datang silih berganti. Seolah masalah hidup kian bertambah sebanding dengan kematangan usia.

Akan tetapi…

Janji dan tekad kepalang basah.
Terlajur tertananam di palung dada.

Maka tak ada alasan lagi bagi saya berhenti dan menyerah. Hari ini. Detik ini.

Sudah saatnya saya lebih serius mempersiapkan diri. Sebab jalan didepan masih panjang, namun kini jatah waktu yang saya miliki semakin berkurang

Semoga saya diberi kekuatan.

Namun bila ditengah jalan raga ini telah berpulang lebih dulu, maka biarlah cacatan kecil ini menjadi saksi akan besarnya kesungguhan tekad dan kemurnian niat. Atas sebuah Janji yang pernah saya ikrarkan.

***

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”

Terima kasih kepada semua orang-orang yang berjasa dalam hidup saya,
kepada orang-orang terdekat, dan kepada orang-orang yang pernah datang dan hadir menjadi saksi cerita ini

*tidak ketinggalan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan anakUntad atas kejutannya di hari ini

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

10 comments: On Refleksi 24 Tahun Lintas Waktu

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar