Presiden Terpilih Adalah Anugerah Tuhan Untuk Bangsa Kita

Jokowi & Prabowo - Satrioamrullah.com
Dua kandidat presiden RI 2019-2024, Jokowi & Prabowo, saling bersalaman sambil bertukar tawa (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkanku” – Umar bin Khattab

Cukup lama buat saya untuk memahami dan menerima qoute tersebut, mengingat dalam hidup, saya pernah kehilangan sesuatu yang amat saya cintai. Teramat sangatnya. Hingga satu hal yang buat saya tetap bangkit adalah menerima takdir, bahwa mungkin Allah tidak menghendaki kami untuk hidup bersama.

Dalam keyakinan agama saya, segala hal yang terjadi di dunia telah di atur oleh-Nya. Tidak ada satupun peristiwa yang terjadi di Bumi terjadi secara kebetulan. Melainkan Dialah yang mendesain, Dialah yang menciptakan, Dialah Yang Maha Mengatur semua peristiwa. Dia yang menentukan pergerakan bintang di jagat raya. Dia yang mengatur setiap butir debu yang beterbangan. Dia yang mengehendaki setiap daun yang jatuh berguguran. Termasuk Dia pulalah yang menghendaki takdir hidup seorang manusia, jodohnya, rejekinya, hidup dan matinya.

Melihat kondisi terkini yang terjadi di tanah air, quote diatas buat saya sangat relevan untuk kita maknai bersama. Sebagai orang yang beriman, saya mempercayai bahwa Tuhanlah yang menghendaki jalan hidup setiap hamba, siapa yang diangkat dan siapa yang diturunkan oleh-Nya.

Siapapun pemimpin kita, presiden kita, saya percaya bahwa dia adalah pemberian Tuhan yang ditetapkan untuk bangsa kita. Sedikitpun saya tidak ragukan, terpilihnya pemimpin dalam proses demokrasi yang kita lewati kemarin bukan sekedar ditentukan oleh kehendak rakyat, melainkan oleh kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kendatipun setiap manusia di Bumi berlaku curang untuk membuat A meraih kekuasaan, namun bila Tuhan tidak menginginkannya maka dia tidak akan terpilih. Demikian pula, kendatipun B dicurangi oleh setiap orang, oleh sistem, oleh perangkat atau aturan pemilihan, tetapi bila Tuhan menghendakinya maka dialah yang akan terpilih menjadi pemimpin.

Jalan hidup dan takdir setiap orang TIDAK AKAN PERNAH TERTUKAR!

Tapi seperti banyak manusia, demikian pun saya, merasa seolah-olah kitalah yang memiliki kehendak. Kita cenderung mengatur Tuhan menuruti apa keinginan kita. Bila takdir tak berpihak pada kita, seringkali kita menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri. Tanpa sadar kita justru menuhankan egoisme kita diatas segalanya.

Lebih jauh kita juga menuhankan ketakutan-ketakutan kita

“Bila dia bukan jodohku, apa jadinya hidupku”
“Bila dia yang jadi presiden maka hancurlah negeri ini”

Kita terus menanamkan narasi-narasi ketakutan dalam benak kita, seolah-olah hal tersebut akan menjadi nyata. Kita lupa, apa yang menurut kita baik belum tentu demikian. Begitu pula sebaliknya.

Mungkinkah kita sudah tersesat terlalu jauh? Dengan congkaknya kita meragukan kebesaran Tuhan. Sehingga enggan mempercayai bahwa setiap takdir yang ditetapkan oleh-Nya sesungguhnya adalah kebaikan untuk diri dan bangsa kita. Atau barangkali kita ini hamba yang tak tahu mengucap syukur. Sehingga setiap detik yang kita lewati, nafas yang kita hembuskan, hari yang kita lewati bersama orang-orang tercinta, dan negeri yang aman, damai dan tentram tak terhitung sebagai rejeki?

Saya ingin mengajak kepada kawan-kawan semua, marilah kita menerima setiap takdir dan pemberian Tuhan dengan penuh rasa syukur. Siapapun pemimpin kita, beliau adalah bagian dari anugerah Tuhan yang mesti kita syukuri. Berhunuzonlah kepada ia yang terpilih. Apapun langkah dan kebijakannya kelak, yakinilah bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mewujudkan negeri baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Bila kemudian ia membuat kebijakan yang salah maka ingatkan dia dengan kritik yang penuh rasa cinta. Namun bila kebijakannya baik maka dukung dan bantu mewujudkannya bersama-sama.

Sebagai sesama anak bangsa, sudah sepantasnya kita saling dukung dan sayang-menyayangi satu sama lain. Hidup kita hanya sementara, untuk apa saling menebar benci. Usailah sudah semua pertikaian. Saatnya bergandengan dan berpelukan.

Dibulan Ramadhan penuh berkah ini, marilah kita sama-sama berdoa untuk negeri kita. Semoga Allah swt, Tuhan semesta alam, memberikan rahmat, keberkahan, kebaikan dan kedamaian untuk negeri kita tercinta, Indonesia.

SA

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar