Perlunya Pemberian Beasiswa Bagi Calon Dokter Indonesia

Adalah Suharsi calon mahasiswa kedokteran Untad yang saat ini tengah kebingungan, antara berjuang meraih mimpinya atau memupus harapannya menjadi dokter. Meskipun telah dinyatakan lolos sebagai mahasiswa kedokteran namun kewajiban membayar biaya administrasi sebesar Rp 275.000.000 adalah sesuatu yang sangat-sangat berat. Sementara deadline pembayarannya kurang dari 2 minggu lagi. Seandainya kita adalah Suharsi pilihan apa yang kan kita pilih?

Tergelitik sebuah pertanyaan dalam diri saya, mengapa sebegitu mahalnya biaya yang harus dibayar untuk menjadi seorang dokter?

Padahal dokter adalah cita-cita mainstream anak negeri ini. Menjadi dokter juga merupakan cita-cita mulia. Saya pun sangat percaya bahwa negara ini mebutuhkan banyak tangan-tangan dokter.

Maka bila profesi dokter hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berada, lalu dimana letak pendidikan berkeadilan kita?
Yang sangat disayangkan ialah bila ada anak negeri kita yang ternyata punya potensi dan komitmen yang tinggi untuk menjadi dokter kemudian harus pupus hanya karena masalah biaya masuk yang sangat fantastis.

Ini sangat tidak adil. Sangat tidak adil.

Kita semua harus mengambil langkah kongkrit untuk mengatasinya.

Win win solution menurut saya ialah pemerintah (baik pusat maupun daerah) harus mengambil peran dan tanggung jawab memenuhi beban biaya operasional perguruan tinggi khusus mahasiswa kedokteran. Anggap bahwa ini merupakan investasi jangka panjang. Perguruan Tinggi juga harus berusaha lebih mencari dana investasi, bukan dengan cara mengumpulkan uang dari mahasiswanya, melainkan dari pihak swasta atau kerjasama riset dan keilmuan.

Bayangkan bila kuliah kedokteran menjadi murah, maka setiap anak Indonesia dari semua kalangan dapat menjadi dokter, ongkos berobat ke dokter pun menjadi lebih murah, cerita-cerita kelam oknum dokter yang menguras kantong pasien untuk menutupi biaya masuk kuliahnya dulu takkan lagi ada, akan ada banyak tenaga dokter di semua pelosok indonesia, yang kompeten dan punya dedikasi tinggi. Karena untuk lolos menjadi dokter bukan lagi ditentukan dengan kemampuan keuangan, melainkan disaring dari niat dan kemampuan serta dedikasi mengabdi untuk negeri.

Hal yang sama yang sedang dilakukan oleh Universitas Padjajaran. Di saat di kampus kita ramai perbincangkan mahalnya masuk kedokteran, di Padjajaran biaya kuliah kedokteran di GRATIS kan!

Semoga hal yang sama dapat terwujud di kampus-kampus di seluruh Indonesia.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar