#3 Penantian Yang Tak Terduga

“kalo kamu so sampe disana nanti, puas kamu makan ikan itu.”
“Disana itu pusatnya ikan. Mau makan ikan apa saja pasti ada.”
“ikan-ikan disana itu baru satu kali mati, beda dengan di sini. Yang kita makan ini, ikan so berkali-kali mati” kata ibu-ibu yang begitu antusiasnya menceritakan daerah yang akan ku kunjungi, saat makan malam bersama mereka di emperan pelabuhan Besar kota Luwuk. Istilah mereka untuk ikan yang baru diambil langsung dari hasil melaut ialah “ikan sekali mati”. Tapi kalau sudah ditampung pedagang ikan, dipasar apalagi dirumah-rumah makan maka sebutannya “ikan so berkali-kali mati”

Tidak di ragukan memang ucapan mereka. Mengingat daerah yang kan ku kunjungi merupakan daerah kepulauan yang kaya akan hasil laut, termasuk ikan. Siapa sih yang tidak kenal Banggai Laut di Sulawesi Tengah ini? Bahkan nama daerahnya saja sudah menggambarkan seperti apa kondisinya.

Begitu pula ketika mengetahui desa yang akan kami tempati adalah desa Kokini. Pertama kali mendengarnya, ku kira adalah nama seekor ikan. Karena mirip dengan ikan (Mas) Koki yang ku kenal lebih dulu. Maka sudah ku prediksi bahwa daerah yang kan kami tempati nanti adalah daerah di sekitar pesisir pantai.

Persiapan pun direncanakan matang. Celana berenang dibeli, hitung-hitung dua bulan nanti bisa les berenang gratis bersama para nelayan. Pancing sudah hampir dibeli, tapi mengingat bisa pinjam pancing dari masyarakat disana maka tak jadi dibeli. Oh ya, tidak lupa sun block. Ini penting. Supaya pulang dua bulan nanti teman-temanku tidak menyangka aku telah berubah menjadi “Satrio Baja Hitam”.

Tapi siapa kira, ternyata desa Kokini bukan berada di pesisir Banggai. Melainkan di pegunungan. Walaupun jaraknya hanya sekitar 3 km dari bibir pantai tapi cuaca disini adalah cuaca pegunungan. Bukan pantai. Alhasil bukan ikan yang menyambut kedatangan kami sebagaimana yang kami bayangkan. Melainkan buah.

Ternyata, Kokini adalah desa buah. Luar biasanya, saat ini adalah musim buah beruntun bagi Kabupaten Banggai, khususnya di desa Kokini. Bulan ini adalah musim buah Durian dan buah Manggis. Bulan depan adalah musim buah Rambutan dan buah Langsat. Dua bulan lagi penduduk akan panen raya buah cengkeh.

Tidak salah-salah, dusun Lelang, dusun yang kami tempati di desa Kokini saat ini ternyata merupakan dusun yang memiliki komoditas ekspor buah tertinggi se Kabupaten Banggai Laut. Buah-buah dari dusun ini memenuhi pasar-pasar di Luwuk dan Kendari. Tiap harinya penduduk di dusun ini saja bisa memanen seratus ribu buah manggis dan puluhan ribu buah Durian. Harganya pun sangat murah, durian disini Rp. 10.000 bisa dapat 5 buah. Sedangkan Manggis bisa sampai 25 buah.

Beginilah akhirnya kami, mahasiswa KKN desa Kokini kecamatan Banggai. Walau bukan ikan namun tiap hari kami puas makan buah durian dan manggis yang diberikan gratis oleh masyarakat sekitar yang baik hati.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar