Misteri Hilangnya Baliho 600 Ribu & Budaya Apresiasi Kampus

Saya suka dengan apresiasi, sebab apresiasi mampu membentuk iklim kompetitif serta menjadi motivasi bagi kemajuan peradaban. Sejak kecil saya di didik dengan budaya apresiasi. Jika saya rajin belajar atau berhasil meraih prestasi maka orang tua saya selalu memberi saya hadiah. Saya ingat sepeda pertama saya adalah hadiah atas khatam Quran saya. Apresiasi di lingkungan keluarga inilah yang buat saya termotivasi untuk meraih prestasi lainnya. Karena itu saya percaya, bila apresiasi telah menjadi budaya dilingkungan sekolah/kampus maka akan banyak siswa/mahasiswanya meraih prestasi.

Sayang, saya belum melihat hal tersebut menjadi budaya di kampus saya, setidaknya sampai hari ini. Inilah alasan mengapa saya dan kawan-kawan kemudian menginisasi gerakan ‘Tadulako Menginspirasi’. Salah satu tujuannya ialah memberikan wadah apresiasi bagi mahasiswa berprestasi. Ya, kami sudah memulai membuat suatu terobosan.

Minggu kemarin, saya dapat kabar bahwa salah seorang teman sekelas saya, Agung berhasil meraih prestasi luar biasa, medali perunggu dalam olimpiade fisika nasional. Kenapa saya bilang luar biasa? Karena sejak 2001 prodi fisika berdiri baru tahun ini berhasil meraih medali. Tentu saja, prestasi ini layak untuk diberi apresiasi.

Saya harus ‘mengomporin’ teman-teman dan birokrasi kampus pikir saya.

Senin, Agung dimuat dalam profil Tadulako Menginspirasi pada fanspage anakUntad.com. Postingan tersebut dibaca lebih dari 2.100 orang, dilike 98 orang, dikomentari 24 kali, dan di share 6 kali. Salah satunya saya dibagikan dalam grup Himafi Fmipa Untad dengan sedikit komentar sebagai bumbu penyedap.

Hal ini kemudian menggerakkan jurusan dan teman-teman Himafi untuk mengapresiasi mahasiswanya. Untuk mengapresiasi Agung, jurusan bersama teman-teman Himafi kemudian membuat spanduk ukuran 1×3 m yang memuat ucapan selamat atas prestasinya. Secara bersamaan, wakil dekan bidang kemahasiswaan mengontak saya, agar membuatkan baliho serupa ukuran 4×6 m untuk di pajang di depan kampus. Bagus sekali. Akhirnya birokrasi jurusan dan MIPA mulai mengapresiasi mahasiswanya. Ini terobosan yang baik dan harus dipertahankan.

Selasa, spanduk tersebut jadi dan di pasang di atas mading pusat MIPA. Meskipun libur, teman2 tetap hadir membantu memasangnya. Rabu, baliho yang dibuat pun jadi. Baliho ukuran 4×6 m tersebut di pasang di depan kampus. Baliho yang berisi ucapan selamat civitas akademika MIPA atas prestasi Agung tersebut terpampang dengan Gagahnya. Rasa-rasanya ini pertama kalinya saya melihat birokrasi kampus (dalam hal ini MIPA Untad) membuatkan baliho besar atas prestasi mahasiswanya. Wah, keren. MIPA sudah memulainya, esok fakultas lain pun harus memulai mengapresiasi mahasiswanya.

Hari itu juga saya dapat kontak dari wadek bima MIPA bahwa rektor Untad meminta untuk dibuatkan poster ucapan seperti itu juga, kali ini untuk dipajang di koran-koran. Wah, iklim apresiasi ini sudah terbangun rupanya. Saya bahagia, ternyata upaya saya tidak sia-sia.

Namun, kebahagiaan saya tidak berlangsung lama. Baliho yang terpasang hari Rabu tersebut entah oleh siapa dicabut pada hari Kamis. Hari jumat baliho tersebut hilang menyisakan baliho lama yang berisi visi-misi Untad.

Wakil dekan bidang kemahasiswaan Mipa yang meminta dibuatkan baliho tersebut marah, belum sempat dilihatnya berdiri tapi sudah keburu hilang. Saya pun sedikit kecewa. Kecewa bahwa Baliho besar seharga 600 ribu rupiah tersebut ternyata hanya terpajang satu hari. Tentu bukan karena nilai rupiahnya, namun lebih dari itu nilai apresiasi birokrasi terhadap prestasi mahasiswanya pun turut hilang. Baru saja kami memulai, tapi entah ada saja yang menghambatnya.

Sampai saat ini saya belum tahu siapa yang bertanggung jawab atas pencabutan baliho tersebut.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar