#5 Misi Baru Sang Duta Kampus

Jam 10 malam kemarin di balai dusun Lelang desa Kokini sedang berlangsung diskusi hangat antara mahasiswa KKN dan warga yang begitu antusias memberikan saran dan masukan. Seolah tak mau kalah, beberapa ekor katak ikut bernyanyi bersahut-sahutan menambah ramainya suasana diskusi malam itu. Memang tepat di samping balai dusun ada rawa-rawa tempat berhuninya berbagai mahluk hidup seperti katak dan ikan gabus.

“Saat ini kan lagi musim-musimnya ujian nasional bagi siswa, baik sekolah dasar, SMP maupun SMA” Pak Karim memulai menyampaikan gagasannya setelah sebelumnya saya persilahkan.

“Bagi anak-anak SMA sebentar lagi mereka akan mulai memasuki dunia perkuliahan. Seperti adik-adik mahasiswa ini” Sambungnya lagi.
“Ada baiknya, dalam bidang pendidikan ini adik-adik membuat program kerja, mendata anak-anak usia sekolah utamanya anak SMA yang mau lulus nanti. Berikan mereka pengarahan atau sosialisasi bagaimana cara masuk di Perguruan Tinggi Negeri. Disini informasi seputar itu sangat terbatas. Apalagi adik-adik berasal dari Universitas Tadulako, universitas terbesar dan terfavorit di Sulawesi Tengah. Tidak menutup kemungkinan nanti ada anak-anak di desa ini dapat berkuliah di kampus yang sama seperti adik-adik mahasiswa KKN ini.” Saya tercengang mendengar masukan dari pak Kasim ini.
Benar juga, kenapa saya tidak sempat terpikirkan ide ini. Kenapa ide tersebut justru hadir dari masyarakat desa. Padahal saya dan teman-teman datang kemari membawa almamater Untad, kenapa tidak tersentuh ide untuk mensosialiasikan Untad pada anak-anak SMA disini.
Saya tahu, banyak anak anak disini selepas kelulusan SMA pergi merantau keluar desa untuk berkuliah. Ada yang berkuliah di Untika (Universitas Tompotika) dan Unismuh (Universitas Muhammadiyah) di kota Luwuk. Bahkan ada juga yang sampai merantau ke Makassar untuk berkuliah.
Tapi anehnya tidak ada yang berkuliah di Untad. Yang kami ketahui ada satu orang alumni Untad disini, tapi lulusan tahun 93. Itu sudah lama sekali. Untad dengan nama besarnya, yang gaungnya begitu besar dipelosok desa ini tapi tak ada anak desanya yang menjadi alumninya, hanya karena keterbatasan informasi.
Saya jadi teringat salah seorang teman saya, seorang mahasiswa ITS. Dia menyadari sedikit sekali anak Palu yang melanjutkan kuliah di ITS, saking sedikitnya bahkan dapat dihitung dengan jari. Ketika pulang kampung, ia bertekad mensosialisasikan ITS kepada anak anak SMA kota Palu. Dan dia lakukan itu walau hanya seorang diri.
Lalu mengapa saya tidak lakukan hal serupa juga disini? Toh tanpa saya sadari sesungguhnya saya dan kita semua mahasiswa KKN Untad yang ada disini adalah duta Universitas Tadulako yang harus siap mengabarkan Untad ke mata negara dan dunia.

Terima kasih atas masukan yang baik ini pak Karim

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar