Esensi Merayakan Keragaman

Merayakan Keragaman - Satrio Amrullah
Mari memandang dunia dengan kacamata berbeda – Satrio Amrullah

Sejak dahulu kala manusia bertumbuh dengan doktrin bahwa ras golongannya adalah ras terbaik, bangsanya adalah bangsa terbaik. Dalam prespektif agama dituliskan, “umatmu adalah umat terbaik”.

Akibatnya huhungan antar sesama ras, suku, bangsa, termasuk juga agama (dalam jangka waktu yang sangat lama) dipenuhi dengan rasa curiga. Bangga atas identitas diri terhadap kesukuan, kebangsaan atau kepercayaan tentu baik, karena itu adalah salah satu cara mensyukuri nikmat kehidupan. Tetapi bila dengannya membuat manusia sombong, penuh curiga atau menimbulkan permusuhan, itu salah.

Saat kecil saya mendengar isu anak orang Jawa kurang di terima di sekolah penduduk asli Sulawesi, karena “katanya” anak orang jawa itu pintar-pintar. Jadi anak-anak penduduk asli kurang bisa bersaing dengan anak Jawa transmigran. Di Jawa sendiri orang Tionghoa kurang diterima, karena orang Tionghoa itu katanya kemaruk, menguasai perekonomian penduduk Jawa, dll. Begitu seterusnya, seperti lingkaran, kecurigaan dan permusuhan itu terjadi dihampir seluruh belahan Bumi.

Sepanjang sejarah peradaban manusia mungkin ada jutaan peperangan yang dipicu isu-isu primordial. Milyaran orang terbunuh hanya karena ketidakmampuan memahami perbedaan satu sama lain. Di Eropa 11 juta warga Yahudi tewas diburu. Di Amerika puluhan juta penduduk suku Indian dibantai. Di Australia jutaan suku Aborigin dibumi hanguskan. Di Asia ribuan perang atas nama agama, perang salib atau perang suci telah berlangsung sejak abad pertengahan hingga hari ini. Di Afrika pun demikian, penduduk asli ras negroid telah lama diperlakukan sebagai warga kelas dua. Diperjualbelikan sebagai budak hingga ke benua Amerika.

Kita pasti sepakat apapun alasannya, merendahkan atau memusuhi orang yang berbeda ras, suku, bangsa dan agama lain dengan kita adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Hal yang harus dipahami, kita dan seluruh umat manusia dimuka bumi tidak punya kehendak memutuskan terlahir dalam keluarga apa. Tiba-tiba saja saya terlahir sebagai warga Indonesia, suku Betawi-Jawa, agama Islam. Jadi saya hidup hanya menjalani takdir yang telah ditetapkan sejak lahir. Sangat tidak adil apabila saya tiba-tiba dimusuhi oleh etnis lain hanya karena terlahir dari rahim keluarga yang berbeda.

Kedua, keberagaman adalah sebuah keniscayaan. Ada begitu banyak faktor yang membuat setiap manusia terlahir berbeda. Genetik, lingkungan, nutrisi, pendidikan, budaya, dll. Tidak ada manusia yang benar-benar persis sama, bahkan anak kembar sekalipun. Jadi jangan pernah mengharapkan hal seperti itu terjadi. Kerana itu artinya melawan hukum alam.

Ketiga, meski terlahir dalam ras, bangsa, keluarga dan agama yang berbeda, kita tetaplah saudara dalam kemanusiaan. Kita sama-sama memiliki perasaan. Merespon hidup dengan cara yang persis sama. Ketika tersakiti kita menangis. Ketika bahagia kita tertawa. Karena itu hukum universal dan piagam HAM tercipta. Jangan menyakiti, jangan membunuh, jangan memaksakan kehendak, jangan lakukan apa yang tidak kamu tidak sukai orang lakukan terhadapmu.

Keempat, setiap manusia hadir dengan sebuah alasan (termasuk mantan, eh?). Dalam teks kitab saya tertulis.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (satu sama lain).

Kelima, ini yang terpenting yang sering dilupakan manusia dalam jangka waktu lama. Manusia itu mahluk sosial. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Setiap ras memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu potensi kerjasama selalu tercipta.

Bila misalnya saat ini China bertumbuh menjadi raksasa ekonomi dunia, kita tidak perlu takut atau was was. Akan tiba masa dimana China tidak mampu lagi mengisi kebutuhan ekonomi masyarakatnya. Akan terlalu banyak perut untuk di isi makan. Eksploitasi alam secara besar-besaran hanya akan merusak negara itu sendiri. Cepat atau lambat China akan butuh negara lain, bangsa lain untuk mengisi, mengekspor bahan baku untuk kebutuhan ekonomi warganya. Itulah yang disebut peluang kerjasama.

Mari belajar dari Jerman, Inggris dan Prancis. Hari ini kita melihat ketiga negara tersebut bisa berdamai dan bekerjasama dalam satu organisasi Uni Eropa. Pada abad ke-19 lalu sangat sulit membayangkan hal ini bisa terjadi. Sama sulitnya dengan kita membayangkan Israel dan Palestina bisa berdamai, atau Korea Utara dan Korea Selatan bisa bekerjasama. Terlalu banyak konflik antara ketiganya. Perang-perang terbesar dan terhebat sepanjang sejarah dimulai dari ketiga negera ini. Perang yang menguras banyak dana, jutaan nyawa, peralatan tempur dan teknologi militer paling modern dimasanya. Sekarang, sangat sulit mencari alasan ketiga negara tersebut akan berkonflik kembali.

Lihat, kesejahteraan itu bisa ditumbuhkan bila setiap bangsa saling bekerjasama. Bukan direbut dengan cara berperang, saling memusuhi atau saling menguasai satu sama lain.

Kita tidak perlu menaruh curiga kepada bangsa atau negara lain. Berpikir bahwa mereka ingin menguasai negeri kita dengan teori-teori konspirasi yang kita buat sendiri. Karena sesungguhnya tidak ada negara di dunia ini yang benar-benar “suka” bila negara tetangganya hancur lebur. Karena hal tersebut hanya akan menambah masalah baru di negaranya.

Coba saja kalau orang Eropa mau main-main buat kekacauan di Timur Tengah, lalu jutaan imigran arab akan datang memenuhi negara-negara mereka. Coba saja hancurkan perekonomian satu negara, Thailand misalnya (pada 1997), lalu krisis moneter akan merambat keseluruh Asia Timur termasuk Indonesia. Dunia kita hari ini sudah saling terkoneksi satu sama lain, sehingga satu kejadian di negara tetangga akan berdampak serupa di negeri kita.

Jadi, tak usah risau. Mari berpikiran terbuka. Jauhi prasangka. Bangun saling pengertian dengan memahami satu sama lain. Utamakan persatuan dan kerjasama.

Mari memandang dunia dengan kacamata berbeda. Bahwa perbedaan itu indah. Dan keragaman kita adalah anugerah dari Sang Maha Kuasa.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar