Mengenang Ekspedisi Nekat Berbuah Manis

Tim Ekspedisi Tapal Batas Pulau Sebatik Indonesia-Malaysia
Tim Ekspedisi Tapal Batas Pulau Sebatik Indonesia-Malaysia

Hari ini, 3 tahun lalu. Mengenang ekspedisi nekat berbuah manis.

Barangkali dalam tim hanya saya yang cukup realistis (kalau enggan menyebutnya pesimis) berpikir bahwa kegiatan ini akan sulit terlaksana. Ini kegiatan benar-benar nekat. Sangat minim persiapan.

2 minggu sebelum pemberangkatan bendahara tim dijambret, donasi yang berhasil terhimpun selama sebulan ludes, hilang begitu saja dalam sehari. Sampai H-3 pemberangkatan, bantuan dana dari Pemda tak kunjung cair. Padahal nominalnya lumayan, cukup untuk tiket pulang pergi tim sekaligus menambah dana operasional kegiatan (sampai kegiatan berakhir bantuan ini pun tidak pernah kami terima). Meski mengatasnamakan mahasiswa Untad, bantuan dari kampus juga tak ada. Karena kampus tidak bisa memberikan dana buat kegiatan lembaga nonstruktral. Komplit.

Jadi coba bayangkan, jumlah tim 20 orang, berarti ada 20 tiket perjalanan pulang pergi dari Palu ke Sebatik, belum akomodasi kegiatan selama 2 minggu, termasuk juga membiayai sekitar 7-8 program kerja. Otak saya masih berjalan normal. Kegiatan ini tidak akan bisa terlaksana. Saya minta untuk ditunda.

Tapi semangat tim lain benar-benar luar biasa. Malam itu kami diskusi, saling terbuka menyanyakan kembali niat dan komitmen masing-masing tim dalam kondisi keterbatasan seperti ini.

Saya tidak bisa membayangkan ketika setiap orang justru bersahutan,

“Saya siap, meskipun mata kuliah/praktikum saya eror”
“Saya siap, meskipun KKN saya eror”
“Saya siap pinjamkan uang 5 jutanya orangtuaku untuk pemberangkatan”, dll

Yang buat saya makin terharu ada seorang tim yang menangis. Dia mengingat masa lalunya dan perjuangannya sampai diposisi saat ini. Sebelum bertemu kami dia berada dalam kondisi sangat terpuruk, saking terpuruknya sampai-sampai ingin bunuh diri. Lalu ketika bertemu dengan kami semangat hidupnya bangkit kembali. Bertemu teman-teman baru. Lambat laun dia merasakan perubahan menjadi pribadi lebih baik. Dia sangat antusias mengikuti berbagai kegiatan kami di komunitas. Hingga akhirnya terpilih sebagai tim ekpedisi dia sangat bersyukur sekali. Sampai sujud syukur. Berulang kali dia ucapkan terima kasihnya karena masuk dalam tim ini. Jadi bagaimana mungkin saya bisa tega menghancurkan kembali semangatnya dengan meminta untuk ditunda?

Akhirnya, tetap sesuai dengan rencana. Tim komitmen tetap ingin berangkat sesuai jadwal tanggal 6 Maret. Urusan dana biar nanti belakangan. Syukur alhamdulillah malam itu ada dana 5 juta. Jadi dengan dana itu kita putuskan untuk berangkat. Yang penting saat itu bisa tiba di tempat tujuan. Apa yang terjadi disana ya nanti dipikirkan. Nekat bukan?

Dari target 50 juta, yang terkumpul cuma 5 juta. Itupun ngutang. Tapi semua itu kami tutup dengan semangat sepanjang perjalanan. “Semangat 45 Juta!”

Kalau mengingat-ingat itu saya jadi merasa bersyukur. Ternyata kita pernah cukup tangguh. Dengan modal dana tersebut kami bisa menuntaskan misi. Bertahan 3 hari lebih lama dari jadwal. Tanpa sponsor manapun. Yang terpenting kami bisa bertemu mutiara di perbatasan. Berbagi bersama mereka. Anak-anak TKI yang semangat belajarnya tinggi, serta guru-guru Sekolah Tapal Batas yang mengajar tanpa pamrih. Lebih jauh lagi, berangkat dari ekspedisi ini, film “Sekolah Tapal Batas” lahir, dan memenangkan penghargaan film terfavorit pilihan juri pada Eagle Award 2015.

Jadi bagi saya, kegiatan ini sangat berkesan. Lebih berkesan dibanding ekspedisi atau kegiatan sosial lain. Karena perjuangannya itu benar-benar terasa.

Sangat sayang sebenarnya, bila sebagian kisah ini hanya tertuang dalam status blog atau media sosial saja. Padahal kalau dibuku mungkin bisa menginspirasi lebih banyak orang.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar