#13 Mengabdi Dipenghujung Hari

Saya percaya, setiap orang dapat membuat perubahan. Menjadikan Bumi menjadi tempat tinggal yang lebih baik. Sebab, hidup bukan dinilai dari seberapa banyak yang diperoleh, melainkan seberapa banyak kita memberi.

Ada satu kegiatan kami yang bukan bagian dari program kerja KKN namun kontinyu kami lakukan. Yaitu memeberikan les bahasa inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Adalah rekan saya, Emi Cahyani mahasiswa Administrasi Negara angkatan 2009 yang menginisiasinya.

Sebulan yang lalu, Emi iseng-iseng mengajari anak pak kepala desa yang masih TK berhitung dalam bahasa inggris, entah bagaimana ceritannya tercetus ide untuk mengajarkan anak-anak SD bahasa inggris juga.

Pertemuan pertama yang hadir hanya dua-tiga orang. Pertemuan kedua bertambah menjadi lima-enam orang. Pertemuan selanjutnya bertambah menjadi delapan, sembilan, sepuluh hingga belasan orang hadir untuk belajar bahasa inggris. Setiap sore rumah pak kepala desa ramai oleh suara anak-anak yang menghafal, berbicara, tertawa bila ada temannya yang salah mengucapkan, dan oh ya, bernyanyi bersama.

“ingat-ingat itu remember, jangan lupa itu don’t forget, aku suka kamu i like you, hanya engkau only you”, serta beberapa lagu english anak lainnya mereka nyanyikan dengan semangatnya. Awalnya memang malu-malu tapi lama kelamaan asyik juga. Walau hanya english dasar yang Emi ajarkan pada mereka, namun mereka begitu antusiasnya mengikuti setiap pertemuan.

Jadi mengapa kegiatan ini tidak masuk dalam program KKN kami? Alasannya karena kami terlambat mengetahui bahwa SDN Lelang ini tidak memuliki guru bahasa Inggris. Apalagi dengan diterapkannya kurikulum 2013 yang menghapuskan bahasa Inggris dalam mata pelajarannya. Walau tidak diprogramkan, bukan berarti menjadi hambatan untuk berbagi. Pada dasarnya, hidup menjadi lebih bermakna apabila kita dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Les ini tentu hanya bersifat sementara, karena seminggu lagi kami sudah meninggalkan desa ini. Karena itu kami berharap mereka bisa belajar mandiri. Sayangnya, disini anak-anak susah mendapatkan bahan ajar dan bahan bacaan, baik itu bahasa inggris ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Karena itu saya kemudian mengontak sahabat saya, Moh. Tofan Saputra mahasiswa peternakan Untad angkatan 2011 yang mendirikan Rumah Bahari Gemilang. Saya meminta tolong kepadanya barangkali ada buku bacaan bahasa inggris atau bahan bacaan lainnya yang bisa dibagikan untuk adik-adik sekolah dasar disini. Responnya luar biasa, dia setuju untuk membantu dan akan segera mengirimkannya kepada kami di Banggai Laut ini. Lima hari yang lalu dia mengabarkan kepada saya bahwa buku-buku yang saya minta telah dikirimkan, dan hari ini buku tersebut telah sampai di posko kami. Pak kepala desa sendiri yang mengambil kiriman buku-buku tersebut dari kantor Pos di kota Banggai.

Alhamdulillah. Besok adalah hari perpisahan kami, mahasiswa KKN bersama masyarakat di desa Kokini ini. Dua bulan sudah kami mengabdi. Di hari-hari terakhir ini, kami berharap masih dapat meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebab kami percaya, sebuah kebaikan walaupun itu kecil yang kami perbuat untuk masyarakat, bangsa dan negara akan bernilai ibadah di mata Tuhan Yang Maha Esa.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar