#15 Malam Perpisahan 30 April

Ini adalah hari-hari saya yang paling berharga. 30 April hari perpisahan kami, 1 Mei rekreasi terakhir bersama warga dan 3 Mei hari keberangkatan kami menuju kota Palu.

Malam itu, 30 April 2014 adalah penutupan kegiatan KKN kami selama 2 bulan di desa Kokini sekaligus hari perpisahan bareng warga. Berbeda dengan posko di desa lainnya, hari perpisahan kami sangat sederhana, tanpa musik elekton, tanpa kemeriahan. Sangat sederhana. Hanya sambutan pesan dan kesan antara kami dan warga, pengumuman pemenang lomba pesta rakyat desa, istirahat sejenak dan terakhir salim-saliman. Supaya terlihat lebih wah, saya berinisiatif akan memutarkan musik instrumen ketika pengumuman lomba, saat istirahat dan salim-saliman.

Sejak pagi pemuda karang taruna sibuk mempersiapkan tenda dan kursi di depan balai dusun, mengantisipasi apabila balai dusun tidak muat oleh banyaknya warga yang hadir. sore hari ibu-ibu dasawisma bergantian sibuk mempersiapkan snack dan minuman untuk malam harinya. Kami tidak menanggung apa-apa. Semuanya disiapkan warga. Kami hanya perlu hadir menyampaikan kesan dan pesan sekaligus bersaliman.

Malam itu pun tiba, seperti yang sudah di duga yang hadir sangat banyak. Anak-anak, pemudanya, orangtuanya, apartur desa, hampir semuanya hadir. Acara pun dimuali. kordes kami Eko dalam penyampaiannya mengucapkan banyak permintaan maaf serta ucapan terima kasih telah ditampung dan disambut hangat selama 2 bulan ini. Begitu juga dengan pak kepala desa, dalam sambutannya beliau menyampaikan permohonan maaf baik sebagai pribadi ataupun sebagai aparat desa apabila selama tinggal di rumahnya ada yang kurang berkenan.

“saya meminta maaf kalo selama tinggal dirumah, saya pernah marah sama kalian. Itu bukan berarti saya benci kalian. Tapi itu demi kebaikan kalian juga. Selama tinggal 2 bulan dirumah, saya sudah menganggap kalian anak-anak saya sendiri. Kalau nanti kalian kemari lagi, jangan hanya datang sendiri. Datanglah berenam.”

usai sambutan tersebut acara dilanjutkan dengan pembacaan pemenang lomba dan ditutup dengan salim-saliman. masih seperti biasanya, acara terlihat garing. Kami semua mahasiswa KKN berdiri di depan sementara warganya masih malu-malu maju ke depan untuk menyambut tangan kami. Pak sekdes dengan sendirinya berinisiatif mengambil alih mikrofon, berorasi, menyampaikan kesan dan pesannya. Kata-katanya menggugah perasaan dan nurani kami. Satu-persatu warga pun maju menyalami kami. Menjabat tangan kami dengan erat. Memeluk kami dengan lembut. suasananya tiba-tiba berubah menjadi haru. Teman-teman saya mulai terisak tangisnya. Bapak-bapak, ibu-ibu dan sahabat kami kaum mudanya juga ikutan menangis sambil memeluk kami.

Disaat seperti itu, tanpa dikomando ibu-ibu di belakang malah bernyanyi bersama-sama. Saya tidak tahu itu lagu apa atau lagu daerah mana. Yang saya tahu itu lagu perpisahan. Sontak saya tidak bisa menyembunyikan rasa terharu saya. Saya meneteskan air mata. Teringat hari-hari disini selama dua bulan lamanya. Saya sebisa mungkin mencoba membuat diri saya tegar. Tersenyum dalam kesedihan. Sementara rekan-rekan saya yang lain semakin mengerang, apalagi rekan rekan saya yang wanitanya. Saya bisa merasakan, bahwa kami saling merasa kehilangan. Saya baru menyadari, bahwa selama dua bulan kami tinggal disini kami sudah di anggap keluarga sendiri. Sebagai anak oleh orangtuannya, sebagai saudara oleh pemudanya, dan sebagai kakak oleh anak-anaknya. Entah bagaimana menggambarkan perasaan saya malam itu. Saya merasa telah memiliki keluarga baru.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar