Lembah Mukti, Dulu, Kini dan Nanti

Desa Lembah Mukti - SatrioAmrullah.com

Desa ini bernama Lembah Mukti, terletak di Kec. Dampelas Kab. Donggala. Dari namanya sudah bisa ditebak, pasti merupakan desa transmigran asal Jawa, sebab kata “mukti” bukan merupakan dialeg Sulawesi apalagi dipadankan dengan kata “lembah” sebagai awalannya.

Soal penamaan “lembah” sendiri menurut saya juga agak membingungkan. Karena nyatanya topografi desa ini berbukit, bergunung, bergelombang. Jadi saya pikir harusnya bukan “Lembah Mukti”, melainkan “Gunung Mukti”, atau “Bukit Mukti” 

Usia desa ini juga masih terbilang muda. Saat pertama kali di buka ibu saya masih duduk di bangku SD. Jadi perkiraan saya usianya tidak lebih dari 40 tahun. Cukup muda lah bila dibandingkan dengan rata-rata usia desa lainnya di Indonesia.

Pedalaman? Iya. Dahulu ketika dibuka desa ini adalah hutan lebat. Vegetasinya sangat beragam. Orang sangat mudah menemukan kayu ulin, eboni bahkan rotan tumbuh disini. Kera, Rusa dan Anoa pun masih sering ditemui dan diburu sebab desa ini adalah bagian habitat hidup mereka. Namun kini gunung dan hutan itu telah berubah menjadi perkebunan cengkeh, coklat dan kelapa warga.

Lokasi dan medannya agak berat bila ditempuh orang baru apalagi yang terbiasa hidup dikota. Untung saat ini jalan sudah di aspal (meski sepotong-sepotong). Bila tidak anda harus membiasakan diri melewati jalan terjal berbatu sepanjang 7 km atau 10 km bila sampai di ujung desa. Karena lokasi dan medan yang demikian itu membuat desa ini terisolir dari signal handphone sampai hari ini. Jadi buat anda yang ingin berlibur dan terbebas dari gangguan handphone untuk sementara waktu, mungkin desa ini bisa menjadi salah satu destinasi alternatif.

Namun yang terpenting buat saya adalah, 24 tahun yang lalu saya terlahir di desa ini. Saya tumbuh hingga usia sekolah dasar disini. Jadi bagi saya ini adalah kampung halaman. Meski masih banyak kekurangan namun banyak hal yang sering saya rindukan. Disini saya diajarkan serunya bermain dengan alam. Mengenal aneka ragam hewan dan tumbuhan. Belajar bercocok tanam, berternak sapi dan kambing, berenang (atau berendam ya ) di sungai, berburu udang hingga memainkan belasan permainan tradisional bersama kawan-kawan sebaya. Ah rasanya itu adalah saat-saat bahagia saya di masa kecil. Jadi selain tempat kelahiran, desa ini berperan penting membentuk kepribadian masa kecil saya.

Kabar baiknya, Lembah mukti kini punya prestasi. Tahun 2017 ini Lembah Mukti di nobatkan sebagai juara 1 lomba desa tingkat kabupaten Donggala. Saat ini sedang dilakukan penjurian bersama salah satu desa di kab. Buol untuk memperbutkan juara 1 tingkat Provinsi.

Harapan saya tentu, desa ini semoga menjadi pemenang tingkat Provinsi sehingga bisa membawa nama desa ini ke tingkat Nasional. Minimal ketika kelak saya menuliskan tempat tanggal lahir di info biografi saya tidak ada lagi pembaca yang bertanya, “dimana itu Lembah Mukti?”

(eh, betul kan?)

#CeritaDariKampungHalaman

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

2 comments: On Lembah Mukti, Dulu, Kini dan Nanti

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar