Lautan Malam Boneoge

Hidup menawarkan berjuta keindahan, dan dengan kuasa-Nya saya bisa menikmati itu semua.

Sore kemarin saya bersama kawan-kawan fisika angkatan 2010 menyempatkan hadir untuk memberi suport kepada adik-adik junior 2011 yang sedang melakukan survey dan pemetaan di desa Boneoge, Donggala. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktek lapang salah satu mata kuliah khusus mahasiswa fisika bidang keahlian kebumian. Biasanya dilakukan 3 hari 2 malam, sehingga harus membuat perkemahan. Sudah menjadi tradisi kami, bila ada salah satu angkatan yang melakukan praktek lapang, maka kami mahasiswa angkatan lain atau bahkan dosen turut hadir memberi support atau sekedar meramaikan.

Boneoge merupakan salah satu desa wisata laut yang bertempat di kab. Donggala. Memiliki garis pantai yang panjang, letaknya disisi barat pulau Sulawesi serta menghadap langsung ke selat Makkasar membuat penampakan sunset dari desa ini sangat menawan. Matahari akan tampak tenggelam tepat dilautan.

Berharap untuk dapat menyaksikannya maka sore kami berangkat dari Palu, dan tiba saat magrib, tepat setelah piringan matahari tenggelam seluruhnya. Sedikit terlambat memang. Tapi bersyukur masih dapat menikmati indah mega sepanjang horizon langit yang menawan. Sedikit aneh, bahwa kadang dunia terlihat lebih indah bila bertingkah lain dari biasanya. Seperti langit yang sering kali kita amati berwarna biru cerah, seketika itu berubah menjadi jingga kemerahan.

Menjelang malam, bertiga dengan seorang teman dan senior saya, memanfaatkan perahu nganggur untuk pergi melaut. Bukan untuk memancing atau mencari ikan melainkan menikmati malam di atas perahu, di lautan. Menikmati desiran angin darat dalam tenangnya ombak lautan. Dibawah lagit berbintang dengan kelembutan cahaya bulan bungkuk, bulan purnama tak sempurna.

Menjelang tengah malam, kami (masih bertiga) menangkap udang dan kepiting yang bersembunyi di rerumputan laut di air dangkal. Hanya bermpdalkan senter dan bakul nasi. Ternyata sangat mudah menangkap kepiting dan udang di tengah malam, juga sangat mengasyikkan. Mungkin karena mereka sedang terlelap atau karena saya terlalu semangat menikmati pengalaman pertama menangkap udang laut. Tidak terasa 2 jam lebih kami menangkap, hasilnya pun sangat memuaskan. Lebih dari cukup untuk dimakan sepuluh orang.

Menjelang subuh, kami menikmati santapan hasil tangkapan tangan kami sendiri. Kepiting rebus dan udang saos. Rasanya sungguh lezat, mungkin karena bercampur dengan rasa lapar, rasa lelah dan rasa puas karena hasil tangkapan sendiri. Semuanya terbayar dalam satu piring nasi.

Pengalaman ini, sungguh sangat berkesan. Memberikan pelajaran tentang kehidupan. Bahwa hidup ini menawarkan banyak keindahan. Bila kita jika menikmatinya dengan bijak dan penuh tanggung jawab, maka pasti kita akan bahagia. 🙂

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar