#17 Kokini Setelah Kepergian Kami

Malam ini kami masih dalam perjalanan. Mungkin sejam lagi baru tiba di Palu. Dalam bis Mandiri Pratama ini pikiran saya mengawang-awang, mengingat kembali memori pemberangkatan kami siang kemarin yang begitu mengharukan. Bahkan langit pun ikut menangisi pemberangkatan kami. Tapi saya masih belum ingin menceritakan itu, masih mencari waktu yang tepat. Saya ingin merangkum peristiwa kami seharian ini.

Tidak pernah kami membayangkan bahwa kami bisa meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi keluarga bapak Hapsun W. Ada’a, Kepala Desa Kokini, keluarga baru kami.

Sejak kapal berangkat menuju kota Luwuk bapak tidak henti-hentinya melambaikan tangan kepada kami. Sementara ibu tidak berhenti menangis dan mengusap air matanya. Setelah pemandangan tersebut menghilang karena semakin jauh kapal meninggalkan dermaga, masuk sms dari nomor bapak.

“bapak dan ibu sangat sayang kalian, semua hati-hati di jalan jangan lupa keluarga di Lelang”

Setibanya di Luwuk masuk lagi sms dari bapak.

“bapak dan ibu meminta maaf selama ini ibu sering marah tapi semua itu demi kebaikan kalian, jangan lupa bapak dan ibu serta adik-adik kalian di Lelang”

tiba di ampana, bapak dan ibu nelpon kami satu persatu, menanyakan kabar, sudah sampai mana? sudah sampai atau belum? Dan lain-lain. Hampir tiap 3 jam selalu masuk sms atau telpon dari bapak/ibu. Begitu pula sahabat-sahabat kami. Satu persatu nelpon atau sekedar berkirim sms menanyakan kabar, Arwin, Misran, Awi, Ashar, dll.

Mereka bercerita, “rumah sekarang sudah sepi, sudah tidak ada kalian.”
“ada perasaan yang berbeda serelah kalian pulang”, dll

mereka juga cerita bahwa bapak seharian tidak ada keluar rumah. Ibu sempat keluar menghadiri pengajian. Tapi ibu menangis ketika mengaji, ketika ditanya kenapa, beliau menjawab menangis karena mengingat kami seharian ini.

Saya termenung mendengarnya. Kami ini hanya enam orang mahasiswa yang tinggal dirumahnya selama 2 bulan. Yang awalnya bukan siapa-siapa. Yang awalnya tidak memiliki siapa-siapa. Namun ketika kami pulang, kami memiliki keluarga baru. Kami ditangisi. Kami diharharapkan untuk bisa bertemu kembali. Kami dinanti. di sana. Di pulau Banggai, desa Kokini dusun Lelang kec. Banggai kab. banggai Laut.

Sampai jumpa kembali Pak, Ibu. Kami tak mungkin bisa melupakan kebaikan bapak/ibu. Jika ada kesempatan kami pasti kembali dan berjumpa lagi. Kalau bukan di dunia ini, di akhirat pasti.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar