#2 Kesadaran Berbahasa Asing dalam Jepitan Nasionalisme Sempit

Bahasa Asing dan Nasionalisme Sempit


Untuk membayangkan betapa bodohnya saya dalam berbahasa Inggris, saya gagal mentranslasi kalimat sesederhana ini: “saya berbeda denganmu”, dengan benar.

Padahal kalimat itu hanya terdiri dari empat kata; saya, berbeda, dengan, kamu. Tapi tetap saja, jawaban saya keliru.

Ke-engganan saya memperlajari bahasa Inggris sejak SMA membawa saya pada berbagai kondisi sulit dikemudian hari. Prinsip nasionalisme sempit yang saya anut itu nyatanya justru mengekang diri saya sendiri.

Saya akan selalu menghindari membaca buku-buku, atau jurnal bahasa asing. Meskipun saya punya akses terhadap itu, tapi buat apa? toh saya tidak bisa membacanya. Saya juga sering kali malu ikut seminar atau konferensi dimana pembicanya adalah para pakar, ilmuwan atau dosen asing. Saat mereka menyampaikan materinya, saya hanya bisa melihat tanpa tahu apa yang mereka sampaikan. Saat mereka membuat joke yang lucu, semua peserta pada tertawa. Lalu saya bingung apa yang harus saya lakukan. Mau ikut tertawa tapi tidak tahu apa yang ditertawakan. Mau diam saja, tapi malu seolah menunjukkan saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Tercyduk.

Karena masalah bahasa ini pula saya tidak pernah memberanikan diri mengikuti berbagai ajang internasional. Padahal kesempatan keluar negeri saat menjadi mahasiswa itu sangat banyak dan pintunya terbuka lebar. Tetapi keterampilan berbahasa sebagai penunjang utama berkomunikasi diajang tersebut tidaklah saya miliki.

Perlahan saya menyadari prinsip nasionalisme yang saya anut itu rupanya keliru. Menjadi nasionalis itu bukan berarti anti terhadap asing, menjadi nasionalis tak pula berarti menolak belajar bahasa asing.

Saya tentu tak lebih nasionalis dibanding Soekarno dan Moh. Hatta. Tapi lihatlah presiden Soekarno, berapa banyak bahasa asing yang dikuasainya? Dalam biografinya disebutkan Soekarno mampu menguasai sekurang-kurangnya enam bahasa asing. Begitu juga bung Hatta, lihatlah dimana dia berkuliah? Lihat berapa banyak koleksi buku pengantar bahasa asing yang dimilikinya? Meski tak sebanyak Soekarno, tapi bung Hatta juga dikenal fasih berbahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman.

Lalu saya, pendiri bangsa bukan, jiwa nasionalis masih dipertanyakan, tapi sudah sok antipati terhadap bahasa asing.

Lupa, bahwa kemerdekaan kita ini diraih bukan hanya melalui gerakan senjata, melainkan juga melalui perjuangan diplomasi dengan banyak negara di dunia. Merekalah yang gigih memperjuangkan suara rakyat Indonesia. Melalui esai dan tulisan pada majalah/koran luar negeri, melalui ceramah pada seminar dan konferensi, atau melalui orasi pada meja perundingan di forum-forum dunia. Tanpa penguasaan bahasa asing, mustahil hal tersebut bisa dilakukan.

Jangan lupa pula, ketika para pendahulu kita memproklamirkan diri sebagai sebuah negeri yang merdeka, dalam mukadimahnya telah terpatri sebuah tujuan besar bangsa ini, “ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Sebuah tujuan yang bermakna sama, “Hei, kita tak hidup sendiri. Kita adalah masyarakat dunia, dan karenanya kita harus turut mengambil peran serta, membangun peradaban dunia”.

Sepanjang tujuan hidup berbangsa tersebut masih sama, maka sepanjang itu pula penguasaan bahasa asing mutlak diperlukan.

Yang perlu kita ingat adalah, bahasa asing tidak lain hanyalah sarana, sebuah alat bagi kita untuk berkomunikasi kepada masyarakat dunia. Bukan sesuatu yang perlu dipuja apalagi dibangga-banggakan diatas bahasa kita sendiri. Meski kamu kelak mampu menguasai bahasa asing, tapi lestarikanlah bahasa daerahmu dan jadikanlah bahasa negerimu, bahasa Indonesia, sebagai bahasa utamamu.

***

Sesaat setelah saya menyadari semua itu, rupanya semua sudah terlambat…

*bersambung

©satrioamrullah

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar