#14 Kebersamaan Terakhir di Lambangan Pauno

1 Mei 2014 pertama kalinya pemerintah menetapkannya sebagai hari libur nasional untuk memperingati hari buruh sedunia. Namun bagi kami ini adalah hari yang berbeda. Kami mahasiswa KKN bersama warga desa Kokini memanfaatkan hari libur nasional ini dengan rekreasi ke pantai Lambangan Pauno di desa Kendek, Banggai Utara.

Malam perpisahan telah usai. Isak tangis pun telah tumpah. Program KKN sudah selesai. Saatnya refreshing terakhir sebelum pergi meninggalkan pulau Banggai yang eksotik ini.

Seminggu sebelum berangkat, kami sudah merencanakan semua agendanya, termasuk hari May Day tersebut. Tanggal 30 sore ibu-ibu sudah menyiapkan bekal untuk esok pagi. Ada yang membuat ketupat, nasi kuning, sop, ikan bakar, kue, snack dan minuman. Sore itu saya ikutan membantu membuat ketupat di rumah kami (rumah kepala desa). Saya sudah tahu cara membuat ketupat, tapi sore itu saya belajar membuat ketupat lagi. Tapi kali ini dengan cara berbeda. Warga disini bisa membuat ketupat hanya dengan sehelai janur. Biasanya kan ketupat dibuat dengan 2 helai janur. Tapi mereka bisa membuatnya hanya dengan menggunakan sehelai janur saja. Ini adalah hal yang baru bagi saya. Tidak butuh waktu yang lama bagi saya untuk belajar. Saya pun kini bisa membuatnya. Kalau ada yang tertarik belajar triknya, silahkan hubungi saya ๐Ÿ˜€

Pagi hari pun tiba. Saya segera berkemas. Semua hal saya sudah persiapkan, handuk, pakaian ganti, sun block, ban pelampung, kaca mata google, dll. Yang saya tahu hari itu agendanya adalah… berenang seharian!

Jam 9 pagi, semua warga yang ingin ikut rekreasi telah berkumpul. Dua mobil pick up yang pak kades siapkan penuh. Ada puluhan warga ikut rekreasi. Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada yang membawa anak balitanya. Karena mobil full, maka sisanya yang tidak terangkut naik belasan motor. Tujuannya adalah pantai Lambangan Pauno yang terletak di desa Kendek.

Awalnya, saya kurang suka pantai tujuannya. Karena menurut saya kurang bagus, walaupun belum pernah saya kunjungi. Saya sudah berkeliling pulau Banggai. Setidaknya ada 3 pantai terindah yang saya rekomendasikan. Pertama pantai Bongo di desa Banggai Utara, kedua pantai Pasir Putih di desa pasir Putih Banggai Selatan, ketiga adalah pantai kelapa Lima di desa Kelapa Lima, Banggai Selatan. Sedangkan Lambangan Pauno (LP) tidak masuk rekomendasi saya. Tapi karena dibilang pantainya bagus ya saya ikutan saja.

Ternyata, memang benar apa katanya. LP jauh lebih indah dari 3 pantai yang saya rekomendasikan di atas. LP lebih asri, lebih alami, pasirnya putih, bersih dengan garis pantai yang panjang. Airnya jernih berwarna biru muda. Letaknya lebih tersembunyi. Jalanan menuju pantai tersebut masih ditumbuhi rerumputan. Pantas jarang orang tahu. Dan kabar baiknya, hanya rombongan kami yang berkunjung ke LP hari itu. Rombongan rekreasi mahasiswa lainnya justru datang ke tiga pantai yang sudah saya sebutkan tadi. Luar biasa indahnya. Pantai paling indah yang pernah saya kunjungi.

Setibanya disana, kami langsung pasang tenda dari terpal. Terpal lainnya di gunakan sebagai alas. Saya sibuk bernarsis ria. Sementara yang lainnya sudah berenang. Yang lain mempersiapkan makan. Anak-anak dan orangtuanya menunjukkan ekspresi bahagia. Anak-anak membuat istana pasir. Bapak dan ibu-ibunya juga bermain “selodor”, semacam permainan kejar-kejaran di pinggir pantai.

Puas narsis, saya pun berenang. Saya eksplor semua kemampuan renang yang saya miliki ๐Ÿ˜€. Hampir tiga jam saya berenang, menyelam, terapung. Tanpa memperdulikan lagi kulit saya yang makin gosong. Yang saya pikirkan, saya harus puaskan momen liburan seperti ini. Karena belum tentu saya bisa dapatkan kesempatan kedua lagi.

Banggai memang indah. Banggai memang eksotik. I love Banggai ๐Ÿ™‚

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar