Indonesia Bagi Saya

“Apa negara favoritmu?” tanya seorang teman suatu ketika.

“Indonesia”, jawab saya sambil tersenyum.

Yups, jikalau banyak teman-teman saya yang mengidolakan negara-negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Australia, Singapore, dll, saya bahkan tidak tertarik dengan itu, buat saya negara favorit yang ingin saya kelilingi setiap sudutnya ialah Indonesia.

Entahlah, mungkin tanpa saya sadari saya ini berjiwa nasionalis sejak kecil. Ketika membeli polpen baru, dan coba mengetes apakah tinta polpennya bagus atau tidak, kalimat yang coba saya tulis itu adalah “Indonesia”.

Ketika sedang melamun dikelas, dan iseng-iseng mencoret-coret buku, maka saya sering menuliskan kata “indonesia” berulang-ulang kali.

Setiap upacara bendera yang bahkan ditengah terik matahari saya tetap berdiri tegak hormat pada bendera, padahal disekeliling saya teman-teman yang lain berisiknya minta ampun.

Dalam hal berbicara atau bertutur kalimat saya mencoba untuk menggunakan bahasa indonesia yang baku. Bahkan sejak kecil, sejak umur 4 tahun (yang masih bisa saya ingat) saya sudah membiasakan diri berbicara dalam bahasa Indonesia. Teman-teman saya, teman-teman bermain sejak kecil bahkan sampai hari ini pun kalau berkomunikasi pasti berbicaranya dalam bahasa Jawa. Tapi anehnya, kalau mereka berbicara dengan saya, mereka akan menggunakan bahasa Indonesia.

Dalam hal menulis, saya juga membiasakan diri menulis dengan baik dan benar. Bahkan menulis sms pun tidak pernah mengunakan kata singkatan, huruf besar dan kecil seperti tulisan aLaY.

Memilih istri pun (nanti) 🙂, sampai detik ini wanita idaman saya adalah wanita Indonesia. Menurut saya, wanita Indonesia adalah wanita tercantik di dunia.

Dalam hal ideologi, mungkin saya berideologi nasionalis. Meskipun banyak teman-teman saya mendukung dan mengidolakan konsep khilafah, saya masih berpendapat demokrasi pancasila yang di bangun founding father adalah konsep ideal buat Indonesia.

Saya mencintai tanah ini, ragam budayanya, masyarakatnya, kulinernya, alamnya, dan seluruh isinya.

Meskipun banyak kekurangan disana-sini, kemiskinan, kesenjangan sosial yang tinggi, korupsi dan nepotisme yang membudaya, dan lain sebagainya. Terlepas dari itu, saya bangga menjadi Indonesia.

Dirgahayu ke-69 tahun Indonesiaku

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar