Indonesia Adalah Rumah Kita Bersama

Indonesia Adalah Rumah Bersama - Satrio Amrullah


Ketika Indonesia merdeka pada 1945 banyak pakar dunia memprediksi negeri ini takkan mampu bertahan lama. Indonesia diprediksi akan bubar. Mereka sangsi Indonesia dapat menjadi negara dan bersatu dibawah pemerintahan sendiri.

Beragam laporan VOC yang dikirimkan secara berkala ke negeri Belanda menyebutkan, sebelum mereka tiba ke negeri ini, penduduk Indonesia hidup dalam pertikaian. Perang antar antar kelompok dan suku-bangsa telah terjadi selama ratusan tahun lamanya. Konflik budaya, politik, ekonomi dan perebutan kekuasaan selalu terjadi antar raja-raja di seluruh nusantara.

Maka jangan heran manakala negeri Belanda yang kecil itu, dengan penduduk yang hanya beberapa juta jiwa bisa menguasai negeri kita selama 3,5 abad lamanya.

Bagi mereka yang sangsi dengan kemerdekaan Indonesia mengatakan, Indonesia mestinya bersyukur dengan kehadiran Belanda, sebab setelah Sriwijaya dan Majapahit hanya Belanda-lah yang mampu mempersatukan negeri ini dalam satu pemerintahan Hindia Belanda.


Peta Indonesia


Tantangan bagi negara baru ini ialah, Indonesia bukanlah sebuah negeri yang kecil.

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau yang membentang dari ujung Sumatera sampai perbatasan Australia di Papua sejauh hampir 5.000 km. Nilai ini adalah satu perdelapan dari lingkar keliling dunia. Bila luas wilayah daratannya disatukan dengan luas wilayah lautnya, totalnya mencapai 10 juta kilometer persegi. Luas ini lebih luas dua setengah juta kilometer dibanding tanah yang membentuk Amerika Serikat (tanpa Alaska).

Namun, tak seperti banyak negara di dunia. Secara geografis, kepulauan Indonesia sesungguhnya bukanlah sebuah kesatuan. Belum lagi masalah tingkat keberagaman masyarakatnya yang juga jauh luar biasa.

Dari 16.056 pulau yang dimiliki Indonesia, sekurang-kurangnya terdapat 1.208 suku bangsa yang mendiami negeri ini. Ada 546 bahasa yang tertutur setiap hari. Serta 6 umat agama besar dan puluhan agama lokal yang hidup berdampingan satu sama lain.

Ketika pada tahun 1990-an televisi nasional menayangkan acara tentang kelompok etnis yang berbeda-beda ini, banyak masyarakat Indonesia sendiri terkejut menyaksikan tingkat keragaman etnis yang mereka miliki.

Suku Batak di Sumatera dan ratusan suku-suku di Papua, secara etnis dan budaya amatlah berbeda. Hampir tak ada alasan yang bisa mempersatukan mereka, selain bahwa secara historis dulu mereka adalah bagian dari imperium Majapahit, lalu kemarin menjadi bagian dari wilayah jajahan kolonialisme Belanda.

Maka jangan heran bila dimata dunia Internasional, negara Indonesia (dengan tingkat keberagaman yang luar biasa ini) bisa bersatu dan mampu bertahan hingga hari ini adalah sebuah keajaiban!

Indonesia adalah anomali.

Manakala banyak negara di dunia tercerai berai pada masa awal berdirinya akibat perbedaan etnis, budaya dan agama seperti yang terjadi pada Nepal-India atau negara-negara balkan, seperti Yugoslavia yang kemudian menjadi Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Makedonia, Montenegro, Serbia, dan Slovenia. Beruntunglah kita, hingga di usia yang ke-72 tahun ini mampu bertahan dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hanya ada satu penjelasan yang paling masuk akal untuk menerangkan kondisi ini. Tidak lain bahwa, Indonesia mempunyai pemimpin yang tepat pada setiap penggal sejarahnya. Terutama pada masa founding father negeri ini, sang pencetus pancasila sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia, presiden Soekarno.

Pada masanya menjadi pemimpin, Soekarno telah memberikan sesuatu yang sangat penting bagi negeri yang masih muda ini, yaitu rasa kebangsaan, Nasionalisme.

Rasa memiliki sebuah negara adalah prestasi yang luar biasa karena bentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa belum pernah ada sampai Belanda menciptakan sebuah koloni tunggal. Benar, Sriwijaya atau Majapahit pernah pernah menyatukan negeri ini pada masanya, tetapi itu melalui penaklukan, bukan atas rasa kebangsaan.

Soekarno dengan kemampuan pidatonya mampu melahirkan itu. Menghadirkan mimpi tentang sebuah takdir bersama. Takdir sebagai satu bangsa, Indonesia. Namun tidak hanya itu, dengan pemikirannya ia berhasil menggagas persatuan nasional. Melahirkan sesuatu yang maha penting untuk menjalankan satu roda pemerintahan yang dapat di percayai oleh rakyat; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar 1945.

Dengan prinsip-prinsip itu, ratusan suku, etnis dan kebudayaan yang di miliki Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dapat terjalin menjadi satu. Menjadi Indonesia yang kita kenal hari ini.

Namun akhir-akhir ini keberagaman bangsa kita kian teruji. Dinamika politik yang terjadi pasca reformasi, memunculkan kembali paham-paham ekstrimis agamis yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan kita sebagai sebuah bangsa.

Laporan Komnas HAM pada 2017 menyebutkan kasus intoleransi meningkat 11-15 kasus setiap tahun. Temuan Kemendikbud mengungkapkan sikap intoleransi dan sentiment identitas atas SARA juga terjadi di lingkungan sekolah. Tidak ketinggalan pemuda dan kampusnya. Setara Institute mengungkapkan kampus hari ini telah menjadi ladang bagi berkembangnya paham-paham radikalisme.

Rentetan fakta ini adalah ancaman terhadap keberagaman dan kebhinekaan kita. Bilamana hal ini terus-menerus dibiarkan tanpa counter yang berarti maka ramalan para pengamat dunia, bahwa keutuhan negara Indonesia takkan mampu bertahan lama, bisa saja terjadi.

Pertanyaannya terbesarnya adalah, bagaimana sikap kita menyadari ancaman ini?

Apakah kita memilih untuk diam, apatis, menunggu hingga ancaman tersebut kian membesar, menyulut konflik di tengah masyarakat kita, hingga akhirnya kita tersadar setelah semuanya tak dapat tertolong lagi?

Saya tidak bisa memilih diam! Saya memilih untuk mengambil tanggung jawab. Melakukan usaha terbaik mempertahankan persatuan dan kesatuan negeri ini. Merangkul keragamannya dan menjahitnya kembali dalam satu tenun kebangsaan.

Bila Patih Gadjah Mada boleh berumpah tidak akan hidup menikmati Palapa sebelum membuat Nusantara bersatu, atau Bung Hatta yang berikrar tidak akan menikah sebelum Indonesia mencapai kemerdekaannya, maka bolehlah kiranya saya pun berjanji:

Selama nyawa masih menempel dikandung badan, saya akan berjuang mempertahankan persatuan dan kesatuan negeri ini. Apapun resikonya, NKRI harga mati!

Saya percaya Indonesia adalah sebuah keajaiban dan kebhinekaan kita adalah kado dari sang Pencipta. Maka sebagai generasi bangsa yang lahir pasca kemerdekaan, telah menjadi tugas bagi kita semua untuk merawat dan menjaga kebniekaan kita dalam satu wadah NKRI dengan semboyanya Bhineka Tunggal Ika.

Satrio Amrullah

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar