Fisika Panggilan Jiwa

fisika
Fisika mungkin sulit, tapi fisika itu indah

Saya mulai menyukai fisika semenjak SMP, tapi saya menyukai sains sejak saya SD bahkan mungkin sejak kanak-kanak. Saya tumbuh sebagai anak yang “nakal” karena selain saya cengeng saya juga punya rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu inilah membuat sangat sering bertanya “kenapa?” pada orangtua saya.

Suatu hari ketika di Bis dalam perjalanan ke kota saya memandang keluar jendela, memandang rentetan tiang-tiang listrik yang berdiri kokoh sepanjang perjalanan. Kemudian saya bertanya, “Ma, kenapa kok tiang listrik kabelnya ada tiga?” pertanyaan sederhana tapi cukup membuat orangtua saya pusing menjawabnya, sampai-sampai orang tua saya pernah melarang untuk terus menerus bertanya “kenapa?”.

Selain sibuk mencecar orang tua dengan pertanyaan “kenapa?” saya juga sering sekali merusak mainan saya sendiri. Mainan baru saya mungkin tidak sampai seminggu hingga jadi tidak utuh, entah apanya pasti ada yang hilang. Semua itu saya lakukan hanya karena saya ingin tahu saya bagaimana cara kerjanya. Saya dapat mainan baru, terus saya mainkan sampai puas. Setelah bosan saya bongkar mainannya, dan setelah itu saya susun kembali seperti baru. Ada beberapa yang berhasil jadi baik, tapi tidak sedikit yang gagal. Dan ketika gagal menyusunnya saya akan emosi sambil teriak-teriak
“Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bodoh mainan ini? Bodoh ini?”. Dan pada akhirnya mainan malang itu saya banting dan jadilah barang rongsokan.
Ada yang menarik saat itu, pernah kuku jempol saya hilang hanya karena saya sibuk membetulkan mainan saya sendiri. Waktu itu saya punya mainan mobil-mobilan yang besar, model truk lebih tepatnya. Seperti anak-anak lelaki pada umumnya. Mobil-mobilan saya juga diberi tali diujungnya supaya bias ditarik-tarik. Di isi muatan pada baknya kemudian ditarik keliling halaman. Setelah puas, tibalah waktunya bereksplorasi. Saya bongkar baknya, kepalanya, roda-rodanya hingga tersisa badannya. Kemudian saya susun kembali. Semua itu saya lakukan diatas kursi panjang tanpa sandaran yang biasa dipakai duduk sampai empat-lima orang sebagai meja sambil berdiri dilantai. Nah waktu itu jempol kaki saya gatal karena digigit semut. Untuk mengurangi rasa gatalnya saya tempatkan jempol kaki saya sebagai pijakan kaki kursi. Maksudnya supaya rasa gatalnya dpat dinetralisir dengan rasa sakit-sakit diinjak kursi. Setelah saya susun semua mainan saya  maka tinggalah baknya yang terakhir yang akan saya pasang. Pikiran saya supaya baknya bisa terpasang maka baknya harus ditekan kuat-kuat diatas badan mobil-mobilan. Malangnya saya, karena serius memperbaiki mainan sampai saya lupa ada kaki saya dibawah kursinya. Sontak saya berteriak dan menangis kuat-kuat. Jempol kaki saya berdarah dan kukunya lepas digantikan kuku baru, sama seperti gigi susu saya yang lain. Malangnya..~
Saya tidak bisa lupakan kejadian ini dan sejak saat itu saya mulai tanamkan dalam diri bahwa saya harus teliti dalam bekerja dan keselamatan mesti diutamakan.
Waktu SD pengenalan mata pelajaran sains dimulai saat kenaikan kelas tiga. Alhamdulillah orang tua saya (tepatnya ayah saya) adalah pegawai negeri di departemen sosial di kota, jadi terkadang saya dibelikan buku pelajaran sekembalinya dari kota, termasuk buku IPA dan lain-lain. Tapi melalui tulisan ini sebenarnya saya mau protes sebab buku yang dibeli pasti tidak terpakai karena semuanya tidak sama dengan yang dipakai guru. Dari beberapa buku pelajaran yang saya baca, buku IPA lah yang menarik perhatian saya. Didalam buku itu dijelaskan semua rahasia alam yang ingin saya ketahui sejak lama, tentang diri saya,tentang tubuh saya, tentang lingkungan saya, tentang hewan, tumbuhan, bumi, planet, tata surya bahkan bintang yang berkelap-kelip dimalam hari. Semua pengetahuan ini tidak saya dapatkan dibuku pelajaran lainnya maupun dari orangtua saya sendiri. Mulai dari sinilah saya menyukai mata pelajaran IPA. Di IPA lah semua jawaban segala pertanyaan “kenapa” saya itu.
Oh ya mengenai SD saya, saya bersekolah dasar disebuah kampung transmigrasi dipedalaman. Semenjank saya duduk kelas 1 sampai kelas 3, sekolah saya masih berdinding papan, beralaskan tanah, beratap seng dan berlangit-langitkan anyaman bambu. Kondisinya juga tidak bisa dikatakan baik karena sudah lama berdiri. Nanti kenaikan kelas empat baru mulai direnovasi dengan didnding beton. Tapi bahkan sampai sekarang ruangan kelas sekolah saya hanya ada empat. Tiga rungan kelas dan satu ruang guru dan kepala sekolah. Satu ruangan kelas dalamnya dibagi menjadi dua kelas yang diberi sekat papan. Satu ruangan untuk kelas 1 dan 2, satu ruangan lagi untuk kelas 3 dan 4, dan satu ruangan lagi untuk kelas 5 dan 6. Total jumlah guru kami hanya ada 3 orang guru dan satu kepala sekolah. Masing –masing guru mengajar untuk tiap ruang kelas. Seperti dalam film “Tanah Surga, Katanya..” setelah si guru selesai mengajar kelas 3 maka ia akan berbalik keseberang sekat mengajar kelas 4. Alhasil proses belajar-mengajar tidak berjalan dengan baik. Saya baru menyadari sekolah saya termasuk terbelakang setelah saya merantau ke kota.
Saya pertama kali mengenal teori relativitas Einstein saat kelas 5 SD. Waktu itu ada bantuan buku-buku perpustaan dari pemerintah. Pihak sekolah kemudian mulai mengoperasikan perpustakaan sekolah. Nah dari sinilah saya peroleh bacaan-bacaan menarik, ensiklopedia tentang fakta-fakta didunia, tentang bencana alam, tentang astronomi, dll. Yang paling menarik menurut saya adalah buku ensiklopedia tata surya dan alam semesta, didalamnya banyak info-info tentang Bumi, Matahari, Bulan, Planet-Planet seperti Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto (waktu itu Pluto masih disebut planet). Beberapa informasi tentang wajah semesta juga ada, salah satu yang saya ingat ialah gambar tentang bentuk ruang yang melengkung akibat tarikan gravitasi, di contohkan seperti sebuah bola yang berada diatas kain yang dibentangkan. Kain yang melengkung ini diibaratkan ruang yang melengkung karena adanya bola. Ini adalah teori relativitas umum Einstein tentang ruang dan gravitasi. Saya baru mengetahui penjelasan tentang ini ketika duduk dibangku SMA kelas 3.
Selain sains atau IPA sejak SD saya juga suka mata pelajaran matematika. Sebenarnya waktu SD dulu saya merupakan siswa berprestasi. Sejak kelas 1 sampai kelas 6 saya selalu memperoleh rangking 1 tiap triwulannya, atau tiap semesternya. Terkecuali kelas 3 (kelas 3 saya dapat juara 2). Kabarnya teman wanita saya yang dapat juara 1 itu dibelikan sepeda karena berhasil mengalahkan saya (sepertinya dia harus berterimakasih pada saya :D). Tapi saya merasa tidak puas dengan system penilaiannya. Waktu itu kami diajar oleh guru baru. Dan maaf saya merasa keobjektifitasan beliau kurang. Sayangnya teman wanita saya itu pindah sekolah pada saat kenaikan kelas 4. Jadi bisa dipastikan setiap pembagian rapor muncul kalimat “pasti Satrio lagi yang juara satu”.
Kembali ke topik, kelas 5 SD saya mewakili sekolah saya dalam lomba cerdas cermat matematika. Untuk pertamakalinya dalam hidup saya berkompetisi membawa nama sekolah. Kompetisi pertama itu masih tingkat gugus. Saya ingat saya di grub A (sebenarnya bukan grub karena kompetisinya individu), selain saya ada lima atau enam anak yang jadi saingan saya. Ada tiga babak yang disediakan, babak pertama ialah babak amplop, babak kedua babak lempar dan terakhir babak rebutan. Karena saya dapat nomor urut A maka saya duluan maju untuk memilih amplop soal saya. Semua soalnya dibacakan secara lisan sehingga kalau bukan menghayal ya harus mencakar dikertas yang disediakan. Hampir semua soal amlop saya jawab dengan benar dan membuat nilai saya sempurna dibandingkan lawan-lawan saya yang lain. Yang lain banyak yang tidak bisa dijawab. Kemudian tibalah babak kedua, babak lempar. Sama seperti babak pertama tadi saya mengambil amplop soal saya akan tetapi apabila saya tidak bisa menjawab maka soal tersebut dilempar ke peserta lain. Nah ada yang lucu dibabak kedua ini, semua soal yang diberikan pada saya habis saya lahap sehingga tidak ada kesempatan bagi lawan saya untuk memperoleh penambahan poin. Kalaupun saya tidak bisa menjawab, merekapun pasti sama.
Setelah soal saya habis, maka peserta B kini yang diberikan soal. Beberapa soal peserta B tidak bisa dijawab maka dilempar ke C, C tidak bisa dilempar ke D, D tidak bisa dilempar ke E, dan jika E tidak bisa menjawab juga maka dilempar ke A. setiap soal yang dilempar ke saya, saya jawab dengan benar sehingga nilai saya semakin bertambah banyak. Karena seringnya saya melahap soal orang lain maka penonton akan bersorak kalau saya menjawab dengan benar. Ini menimbulkan kecemburuan peserta lain. Nah lucunya karena mungkin jurinya sudah bosan melemparkan soal sama saya atau karena nilai saya sudah melambung tinggi dibandingkan peserta lainnya (nilai saya sudah ribuan sedangkan peserta lain hanya ratusan), jika peserta E tidak mampu jawab soal langsung dilempar ke peserta B, meloncati nama saya. Ini terjadi beberapa kali. Tentu saja ini kecurangan terlepas perolehan poin saya banyak atau tidak. Tapi baik guru saya maupun penonton tidak ada yang berani protes (masa saya yang harus turun tangan?)
Diawal babak ketiga, babak rebutan tiba-tiba mag saya kambuh sehingga saya harus beristirahat meninggalkan arena. Tetapi walaupun saya tidak mengikuti babak ketiga secara penuh, perolehan poin saya sudah sangat banyak sehingga tidak mampu dilampaui oleh peserta lain dan pada akhirnya saya menjadi pemenang ditingkat gugus untuk melanjutkan lomba di tingkat kecamatan.
Saat SMP ketertarikan saya terhadap fisika semakin bertambah. Fisika menjadi ilmu yang paling menarik karena mampu menjelaskan fenomena alam yang membuat saya penasaran sejak SD dulu. Di tambah lagi ada seorang guru baru, masih muda dan sangat inpiratif. sayang saya lupa namanya, karena beliau baru terangkat jadi guru di akhir studi SMP saya. Ada cerita yang menarik ketika saya masih SMP. Kelas kami kelas 3C. Nah saat itu SMP kami hanya ada dua ruang kelas untuk kelas 3 SMP, sehingga ruangan kelas kami terpaksa di lakukan diruang laboratorium. Jadi bisa dibilang saat kelas 3 SMP tiap hari kami belajar di ruang laboratorium J
Karena laboratorium ini adalah ruang kelas, pada akhirnya menjadi bebas di akses oleh siswa. Termasuk saya. Berbagai macam alat-alat dalam laboratorium kami bongkar, batang magnet, microskop, alat destilasi, dll kami bongkar-bongkar tanpa tahu panduan penggunaanya. Maklum, selama SMP kami tak pernah dapat mata pelajaran eksperimen. Karena itu saya heran mengapa bisa ada laboratorium dalam sekolah kami?
Oh ya, saya ingin deskripsikan ruang laboratorium kami. Lab kami ada dua ruangan, ruangan pertama yang biasanya untuk tempat praktek di jadikan ruang kelas kami. Dan ruang satunya lagi adalah ruang tempat penyimpanan alat dan bahan praktikum. Ruang ini tidak terkunci namun ketika pintunya tertutup akan sulit dibuka dari dalam. Nah, suatu hari saya dan teman-teman saya (sekitar belasan orang) masuk dalam ruangan tersebut dengan pintu tertutup. Masing-masing teman saya sibuk bereksperimen tanpa panduan. Dan teman saya, Heri sibuk membongkar-bongkar lemari kimia dalam ruangan ini. Di dalam lemari tersebut ada banyak macam zat kimia dalam berbagai bentuk, cair dan padatan. Dia campurkan berbagai macam larutan dalam satu wadah. Mula-mula satu dua cairan, tampak biasa tidak terjadi apa-apa, campurkan cairan ketiga-keempat-kelima entah sampai keberapa. Hanya perlu beberapa detik cairan tersebut akhirnya bereaksi, berubah warna, memanas, berbusa, menguap dan… meledak. DUUAARRR! Karena pintu tertutup jadi tidak bisa dibuka dari dalam. Kami Terkunci dalam sebuah laboratorium yang meledak! Sontak semua teman-teman wanita saya berteriak histeris. Beberapa teman-teman laki-laki mencari jalan keluar dengan loncat dari jendela. Hanya perlu beberapa detik membuat ruangan sempit itu menyebarka rasa kaget, takut, histeris dan aroma mesiu. Namun setelah pasrah beberapa menit tampaknya tak ada tanda-tanda akan terjadi ledakan kedua. Alhamdulillah.
Kejadian ini membuat kami belajar sesuatu yang penting, bukan berhenti bereksplorasi, sebaliknya jangan pernah takut untuk mencoba :D. Setelah keadaan tenang kami kembali memeriksa wadah campuran tersebut, tidak ada tanda-tanda ledakan, tidak pecah, tidak ada cipratan, yang tersisa hanya panas dalam wadah tersebut. Dan karena ruangannya tertutup, suara ledakan tidak terdengar sampai ke ruang guru. Keuntungan ini kami manfaatkan untuk membersihkan ruang laboratorium dan merahasisakannya secara bersama dari pengetahuan Guru. Yah, setidaknya sampai saya menuliskan kisah ini guru kami belum mengetahui kalau cerita ini pernah terjadi di sekolah kami.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, kami belajar sesuatu yang penting, namun bukan berhenti bereksplorasi, sebaliknya jangan pernah takut untuk mencoba. Lagi. Kami kembali bermaksud membuat “bom petasan” itu lagi. Tapi bukan di ruang lab, kali ini di kebun sekolah. Kami bawa beberapa botol cairan yang ada dalam lemari. Tapi walaupun begitu, teman saya Heri sudah lupa cairan apa saja yang dia campurkan sebelumnya. Alhasil kembali kami coba-coba mencampurkan berbagai macam zat kimia tanpa pengetahuan apapun. Campuran tersebut tetap membuat reaksi berupa panas dan berubah warna, namun tidak berhasil membuat ledakan. Dan sekali lagi kami belajar, bahwa kebetulan itu takkan terjadi untuk kedua kalinya J
Saat SMA pun tiba, ketertarikan saya terhadap fisika sedikit mengalami cobaan. Guru fisika SMP saya berbeda karakter dengan guru SMA saya. Beliau (guru fisika SMA saya) adalah seorang wanita, penuh kedisiplinan, “sedikit” cerewet, kalaupun bukan galak namun sering memarahi kami jika datang terlambat atau tidak membawa penggaris. Hasilnya, fisika menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, fisika menjadi kaku dan angker, tidak ada keasyikan dalam belajar fisika, apabila dalam proses belajar itu, sebuah kesalahan menjadi sesuatu yang di anggap buruk.  Melalui tulisan ini saya pun ingin sedikit mengkritisi pola pembelajaran fisika seperti ini yang juga sering di alami di berbagai daerah di Indonesia. Jangan sampai cara mengajar seperti ini justru menghasilkan siswa-siswa yang takut akan fisika. Pembelajaan fisika yang baik ialah pembelajaran yang mengedepankan kebebasan berekspresi bagi siswanya, bebas berpikir, bebas bertanya, dan bebas bereksplorasi. Fisika adalah ilmu paling dasar tentang kehidupan yang harusnya wajib diketahui oleh semua manusia. Fisika juga yang menjelaskan semua fenomena alam yang hadir dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Seyogyanya ilmu fisika adalah seuatu yang menarik bagi setiap orang. Dan ini merupakan tugas besar bagi para pendidik untuk mentransferkan ilmu fisika secara asyik dan menyenangkan.
Walaupun begitu, kehidupan SMA saya bersama fisika sama seperti masa-masa SMP. Saya selalu menjadi yang terbaik di kelas untuk bidang fisika. Semua teman-teman saya bila mengalami kesulitan dalam mata pelajaran fisika pasti akan bertanya ke saya. Bisa dibilang berkat fisika lah yang membuat saya tersohor di kelas. Sampai-sampai teman-teman saya menyebut saya “professor”. Kelas 2 SMA saya mengikuti Olimpiade Astronomi, mengapa astronomi? Karena ilmu atronomi tidak dipelajari dalam mata pelajaran apapun di tingkat sekolah. Sehingga saya berharap dengan mengikuti les olimpiade Astronomi ini saya dapat memperoleh ilmu baru. Astronomi inilah yang membuat saya terkagum-kagum akan keindahan alam semesta. Belajar Astronomi sesungguhnya seperti belajar melukiskan kehidupan, penciptaan dan akhir alam semesta. Seolah-olah mampu menembus pikiran sang Pencipta  bahwa alam semesta yang indah ini telah dirancang oleh-Nya mengikuti kaidah-kaidah hukum alam yang berlaku universal di semua semesta. Hukum alam inilah yang kemudian kita kenal sebagai ilmu Fisika.
Ya, Fisika telah membuat saya jatuh cinta kepadanya. Fisika juga yang membuat saya bersyukur karena membuat saya mengetahui banyak rahasia alam. Fisika pula lah yang mengenalkan saya akan kebesaran Tuhan, sang pencipta. Dan tepat hari ini, saya telah menjadi seorang mahasiswa Fisika di suatu perguruan tinggi di Sulawesi tengah. Dalam masa studi saya yang tidak lama lagi ini, saya akan menjadi seorang sarjana fisika. Mimpi saya menjadi seorang fisikawan dunia pun semakin dekat. Saya harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saya sudah bertekad untuk mendedikasikan hidup saya untuk Tuhan, bangsa dan ilmu pengetahuan, utamanya fisika. Mungkin karena fisika adalah panggilan jiwa saya.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar