Dibalik Pesona Desa yang Menawan

Tinggal di Desa - Satrioamrullah.com

Apa yang salah tinggal di desa?

Langit biru, lingkungan hijau, udara bersih, suhu yang sejuk, pemandangan yang indah. Manakala sang fajar atau senja tiba, kabut tipis perlahan turun ke lembah, menutupi deretan rumah warga yang berjejer rapi dengan latar gunung dan pantai yang mempesona.

Bukankah tinggal di desa itu menyenangkan?

Bagi sebagian orang… Ya! Sangat menyenangkan! Namun itu bila anda hanya tinggal sebentar disana. Bukan untuk tinggal selamanya.

***

Sepuluh tahun yang lalu, saya memberanikan diri merantau ke kota untuk melanjutkan studi SMA dan berkuliah. Di desa kami, melanjutkan sekolah di kota adalah hal biasa. Alasan yang sangat klasik, sebab di desa tidak ada sekolah SMP ataupu SMA. Kalau pun ada jaraknya sangat jauh. Sehingga bila anda tidak punya kendaraan maka anda tidak bisa melanjutkan studi. Termasuk saya.

Kini sepuluh tahun sudah berlalu, saya pun telah menyelesaikan studi jenjang sarjana. Tujuan saya merantau tercapai. Lalu pertanyaan dalam benak pun muncul,

“Maukah saya kembali ke Desa?”
“Akan jadi apa saya bila tinggal disini?”
“Bukankah semua ilmu yang saya pelajari semasa kuliah hanya akan hilang percuma?”
“Lagipula disini tak ada fasilitas yang buat diri saya tumbuh dan berkembang!”
“apalagi saya memiliki impian dan cita-cita yang tak mungkin bisa saya wujudkan bila saya tinggal menetap disini” 

Miris memang. Namun demikianlah kenyataannya.

Saya yakin pengalaman ini pasti juga dialami oleh sebagian besar teman-teman saya. Bahkan mungkin oleh setiap anak-anak desa yang sedang berkuliah di seluruh Indonesia.

***

Ternyata dibalik keindahan desa tersembunyi tragedi kemiskinan yang sulit terurai sejak lama.

Ketika pemerintah kita fokus menghias kota, kita lupa memberi perhatian membangun desa. Sebagian besar pendapatan asli desa kita setor ke daerah untuk membangun kota. Akibatnya hanya masyarakat kotalah yang menikmati pertumbuhan ekonomi dan pembagunan infrastruktur. Sementara masyarakat di desa mengalami serba terbatas dalam mengakses berbagai fasilitas umum, alih-alih bisa turut menikmati.Jurang pemisah antara miskin dan kaya semakin melebar. Arus urbanisasi pun tak terbendung. Kota semakin penat, padat oleh penduduk karena setiap tahun menampung pendatang yang semakin meningkat. Sementara desa semakin ditinggalkan dan kehilangan orang-orang produktifnya. Keduanya sama-sama dirugikan.

Bagi saya ini harus diputus! Paradigma pembangunan harus dirubah.

Indonesia sekurang-kurangnya memiliki 74.000 desa. Bila masing-masing desa tersebut dapat mandiri dan berkembang maju maka percepatan pembangunan akan tersebar secara merata. Pertumbuhan ekonomi meningkat. indeks gini menurun. Cita-cita nasional, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan tercapai.

Membangun desa berarti membangun ekonomi kerakyatan. Ekonomi gotong royong yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa kita. Kita pasti akan senang bila membayangkan setiap desa bisa berdikari. Bilamana seluruh infratruktur yang diperlukan desa untuk berkembang telah tuntas disediakan oleh negara. Listrik, jalan raya, puskesdes, air bersih, signal telpon, internet, bibit, benih, pupuk, bahan bakar dan sarana prasarana penunjang lainnya dapat diakses bebas oleh penduduk desa. Koperasi dan bank desa dapat berdiri, tumbuh dan menumbuhkan UKM di sekitarnya. Lapangan kerja tersedia. Sekolah dari PAUD sampai SMA ada, bila perlu disetiap kecamatan terdapat rumah sakit dan perguruan tinggi. Tidak perlu mall, cukup pasar tradisional yang layak dan berfungsi dengan baik. Tak perlu gedung bioskop, yang penting ada pusat keramaian. Tempat dimana pertunjukan seni dan budaya lokal dihidupkan. Sehingga setiap desa akan tumbuh maju sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing.

Tidak menutup kemungkinan dimasa mendatang orang kotalah yang berbalik, beramai-ramai ingin tinggal di desa. Atau minimal kita yang orang “ndeso” ini tidak lagi alergi manakala diminta untuk kembali.

Semoga kelak akan datang sebuah kesempatan dimana saya bisa turut ambil bagian membangun desa-desa di seluruh Indonesia. Membangun desa, juga membangun Indonesia.

#CeritaDariKampungHalaman

Satrio Amrullah

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar