Buku Bulan Ini dan Pencoretan “Tujuh Kata” dalam Piagam Jakarta

Buku Mata Air Keteladanan - Satrio Amrullah


Buku Mata Air Keteladanan – Pancasila Dalam Perbuatan ini akan menjadi teman pengisi waktu luang dibulan Maret. Buku karya Yudi Latif ini cukup tebal, 658 halaman.

Saya baru membaca sekitar 50 halaman pertama, dan cukup membuat saya memperoleh banyak pengetahuan baru. Terutama soal kondisi masa awal kemerdekaan ketika Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara.

Dalam buku ini tertulis, “Monumen paling membanggakan dalam kaitan ini (penetapan pancasila) adalah kerelaan umat Islam sebagai golongan mayoritas di Indonesia untuk menerima pencoretan apa yang disebut “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta.”

“Dalam situasi yang lebih jernih, tanpa perasaan terancam, tokoh-tokoh Islam juga memiliki kejembaran hati untuk mengutamakan perdamaian, bersedia menerima konstruksi komunitas politik egaliter, yang menjamin kesetaraan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara tanpa memandang latar agama dan golongan. Dalam kelapangan jiwa, kaum Muslim bisa melihat bahwa kasus pencoretan “tujuh kata” itu sesungguhnya ada presenden historisnya pada Perjanjian Hudaibiyah, antara Nabi Muhammad dengan pihak pagan Quraisy.”

Nah ini pengetahuan baru yang saya peroleh. Ternyata peristiwa pencoretan “tujuh kata” (dalam perjanjian damai antara kaum muslimim dengan pihak lain) pernah dicontohkan dalam sejarah nabi Muhammad SAW. Yakni pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah.

Peristiwa tersebut terjadi pada 623 M, ketika sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Mengetahui rencana tersebut, orang-orang Quraisy menyiagakan pasukannya untuk menghalangi Muslim masuk Mekah. Tak ingin ada pertumpahan darah di Mekah, Nabi memilih jalur diplomasi dengan membuat kesepakatan damai dengan kaum Quraisy di Hudaibiyah, kota kecil dekat Mekah. Perjanjian inilah yang kemudian dijenal dengan sebutan Perjanjian Hudaibiyah.

Menjelang penandatanganan naskah perjanjian muncul ketegangan antara kedua belah pihak. Pasalnya wakil delegasi pihak Quraisy, Suhail bin Amr, melontarkan protes keras atas redaksi pembuka draft perjanjian yang diusulkan Nabi. Pembuka draf perjanjian itu berisi ucapan basmalah, “Bismillah al-Rahman al-Rahim” dan sebutan Muhammad sebagai “Rasulullah”. Oleh pihak Quraisy kata tersebut diminta untuk dicoret.

Nabi dengan legowo menerima keputusan tersebut (meski banyak pengikutnya yang kecewa). Menghapus kata: Bi, Ism, Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Rasul, dan Allah. Jumlahnya 7 kata!

Kebetulan yang luar biasa, dipiagam Jakarta kita juga mencoret sejumlah 7 kata; dengan, kewajiban, menjalankan, syariat, Islam, bagi, pemeluk-pemeluknya. Keren.

Para tokoh-tokoh Islam pendiri bangsa pada masa itu, melihat peristiwa ini sebagai rujukan demi mencapai kemashatan umat yang lebih besar. Menghilangkan ego politik identitas demi mewujudkan Indonesia, negara yang baru di proklamirkan tersebut menjadi negara yang kuat, bersatu dan hidup dalam kedamaian.

Sejarah mencatat, apa yang dicotohkan Nabi ternyata terbukti. Meski banyak pengkutnya yang kecewa nabi memilih berkompromi dengan pihak nonmuslim demi mencapai kemaslahatan yang lebih besar, yakni perdamaian. Berkat perjanjian hudaibiyah inilah dakwah islam meluas ke berbagai negeri tanpa takut akan ancaman Quraisy. Dimasa ini juga nabi berhasil membangun kekuatan dan pondasi dasar negara Madinah yang kelak berhasil menaklukan Mekah tanpa pertumpahan darah.

Kita pun demikian patut bersyukur. Dengan menghapus tujuh kata tersebut kita berhasil menyepakati Pancasila yang terbukti teruji menjadi landasan dan pemersatu bangsa. Meski negeri kita memiliki tingkat keragaman suku, bangsa, bahasa, budaya dan agama, kita tetap dapat hidup bermasyarakat, bersatu dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buku ini cukup keren. Entah pengetahuan apalagi yang akan saya peroleh dihalaman selanjutnya. Yah, semoga bisa dituntaskan dalam satu bulan.


*saya sedang menyelesaikan tantangan #onemonthonebookchallenge. Menantang diri menghabiskan sekurang-kurangnya satu buku bacaan baru dalam satu bulan. Yuk ikut!

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar