Bila Saya Menjadi Presiden RI, Ini Yang Akan Saya Lakukan

bila saya menjadi presiden RI


Tulisan Ini hanya sekedar celoteh tentang angan-angan untuk Indonesia dimasa depan. Akan tetapi ide ini layak untuk dipertimbangkan.


1. Memindahkan Ibukota Negara


Jakarta, ibukota Indonesia saat ini via indonesia.travel

Pemindahan ibukota negara menurut saya perlu dilakukan, mengingat kota Jakarta sudah sangat sudah sangat padat penduduknya. Belum lagi persoalan banjir dan macet yang terus menjadi persoalan tahunan. Banyak pakar bilang, Jakarta sudah tidak mampu lagi menampung beban ibukota. Dengan bertambahnya bangunan diatasnya serta eksploitasi air tanah secara besar-besaran mengakibatkan permukaan tanah Jakarta terus mengalami penurunan. Kementrian PU menyebutkan tiap tahun permukaan tanah kota Jakarta turun rata-rata hingga 10-12 cm/tahun [1]. Bila hal ini terus menerus terjadi setiap tahun maka kurang dari 700 tahun seluruh kota Jakarta akan terendam air laut.


Jakarta bisa menjadi kota tak layak huni via pu.go.id

Mari berpikir jangka panjang. Apakah kota ini yang akan diwariskan untuk Indonesia dimasa depan? Cepat atau lambat, Jakarta tidak akan lagi memenuhi kriteria ibukota negara sesuai amanat UU. Saya percaya siapapun presidennya, dimasa depan kebijakan pemindahan ibukota negara akan menjadi sebuah pilihan. Jadi mengapa tidak kita mulai dari generasi kita sekarang?

Dimana ibukota negara yang baru akan dipindahkan?

Ibukota negara yang baru harus direncanakan matang-matang. Minimal bertahan selama 1 milenium. Untuk itu seluruh perencanaan dan tata bangun kota harus di desain selama itu. Luasnya mungkin 2-3 kali luas kota Jakarta. Topografinya harus berupa dataran. Sumber dan ketersediaan air harus berlimpah. Bebas gempa. Mudah di akses dari berbagai daerah diseluruh Indonesia. Dan lokasinya tidak terlalu jauh dari ibukota negara saat ini. Diantara seluruh kriteria tersebut barangkali Kalimantan adalah lokasi yang paling sesuai.


Kalimantan sebagai pusat negara by John Simon Wijaya via kompasiana.com

Kalimantan adalah daerah dengan kerapatan penduduk paling rendah di Indonesia. Datarannya luas. Letaknya pun berada ditengah-tengah Indonesia. Banyak sungai besar sehingga ketersediaan air bagi ibukota baru juga akan sangat berlimpah. Bahkan bisa menjadi satu kelebihan bila kita mendambakan ibukota negara yang baru memiliki view sungai layaknya kota-kota besar di Eropa. Tapi yang paling penting menurut saya ialah lokasi baru tersebut harus kosong, bukan sebuah kota yang telah ada dan didiami penduduk.


Banyak lahan kosong di Kalimantan siap dibangun. Gambar ilustrasi via 1freewallpapers.com

Mengapa demikian? Sebab menurut saya membangun ibukota negara diatas lahan kosong jauh lebih murah dibanding membangun di daerah kota yang sudah ada. Kedua, perencanaan dan tata bangun kota dengan jalan-jalan protokol yang luas juga akan menjadi lebih mudah. Tidak perlu lama dan mengeluarkan biaya pembebasan lahan yang besar. Di lokasi baru tersebut juga paling banyak hanya 40% digunakan untuk keperluan pemerintah. Bangun gedung, jalan, sekolah, rumah sakit, terminal, bandara, pelabuhan, taman bermain serta lahan terbuka hijau. 60% sisanya diperuntukkan sebagai area hunian dan bisnis. Area ini bisa dijualkan kepada masyarakat atau pengusaha. Dengan demikian pemerintah akan memperoleh income tambahan untuk membangun ibukota negara yang baru.

Dengan luasnya lahan kosong tersebut maka kita akan bisa merancang sebuah ibukota baru yang futuristik. Sebuah kota yang akan menjadi kebanggan bangsa bahkan bila perlu menjadi salah satu kota ikonik dunia. Kota baru tersebut tidak hanya kota cerdas, melainkan juga kota yang ramah lingkungan dan layak huni.


Smart city via ncaacademy.com

Membangun Ibukota Negara Baru Bukankah Membutuhkan Biaya Yang Amat Mahal?

Betul. Perhitungan Tim Visi Indonesia 2033 menyebutkan angka minimum membangun sebuah Ibukota baru adalah Rp 100 triliun [2]. Akan tetapi pembangunan dan biaya ini tidak digelontorkan sekaligus. Melainkan dilakukan secara bertahap selama 10 tahun. Dengan demikian anggaran untuk membangun ibukota baru kira-kira Rp 10 triliun/tahun. Sebagai gambaran APBN Indonesia tahun 2016 ialah 1.822,5 Triliun [3]. Artinya biaya untuk membangun ibukota negara baru hanya 0,5% dari APBN negara. Nilai ini bahkan jauh lebih kecil dibanding estimasi kerugian sosial akibat kemacetan Jakarta yang mencapai Rp 150 triliun/tahun-nya [4].

Saya optimis ini dapat terwujud. Bila saya menjadi presiden 2 periode, maka di awal masa jabatan saya yang pertama adalah waktu peletakan batu pertama dan diakhir masa jabatan yang kedua ibukota negara Indonesia yang baru siap untuk diresmikan.

Ini Tentang Visi Besar Membangun Indonesia

Pemindahan ibukota negara ini bukan untuk menghindari problem Jakarta. Melainkan memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada itu. Yakni sebagai katalisator pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi diseluruh wilayah Indonesia.

Jujur harus diakui kebijakan pembangunan Indonesia saat ini masih bersifat sentralistik. Pembangunan ekonomi dan infrastuktur masih berpusat di tanah Jawa. Padahal kita adalah Indonesia. Dengan jutaan penduduk dan masyarakat yang juga ingin menikmati fasilitas dan pembangunan infrastruktur. Maka dengan berpindahnya ibukota negara baru dari pulau Jawa akan meningkatkan percepatan pembangunan di daerah. Kalimantan akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Menyusul Sulawesi, Maluku, Papua dan daerah-daerah lainnya diseluruh Indonesia.


2.  Melesatkan Industri Maritim Nasional

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar