Berpikir Bijak Tentang Perda Larangan Buka Warung Dibulan Puasa

Ada yang disebut habluminallah dan ada yang disebut habluminannas. Ilustrasi gambar berikut ini sangat baik dalam menjelaskan keseimbangan antara keduanya.

Bagi umat muslim, diantara banyak ibadah lainnya, barangkali Puasa ialah ibadah yang paling dispesialkan oleh Allah.

Pertama karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia antara hamba dan Tuhannya. Kedua karena ibadah puasa, Allah sendirilah yang menentukan kadar pahalanya.

“Seluruh amal anak adam adalah dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh kalinya sampai tujuh ratus kali kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya” (HR Muslim)

Maka sudah sepantasnya urusan berpuasa ditempatkan pada tempatnya yaitu urusan manusia kepada Tuhannya. Tidak boleh di intervensi oleh urusan manusia lainnya.

Adalah sangat lucu ketika kita berpuasa kemudian marah-marah karena melihat teman atau tetangga kita tidak berpuasa.

Pernah kejadian di bulan Ramadhan dua tahun lalu ketika saya dalam perjalanan kereta api dari Bogor menuju Jakarta. Ditengah perjalanan masuklah sekeluarga keturunan cina. Mungkin karena tidak sadar atau tergesa-gesa sehingga sehingga tidak sempat sarapan dirumahnya, maka digerbong kereta itu sekeluarga tersebut makan roti dengan lahapnya.

Tiba-tiba seorang bapak bediri membentak mereka dengan kerasnya. Suaranya terdengar dari ujung gebong ke gerbong lain.

“HEI LO CINA ! GA TAHU APA LO ORANG PADA PUASA? LO MAKAN DISINI ORANG PADA PUASA TAU! HARGAI DONG ORANG LAGI PUASA! PERGI KESANA LO! DASAR CINA SIALAN!”

akhirnya karena mungkin malu mereka sekeluarga pindah ke gerbong lainnya.

Hari itu hati saya sebagai muslim tersayat karena sikap seorang bapak yang menurut saya tidak mencerminkan sikap yang islami.

Kejadian yang kurang lebihnya hampir sama dengan tahun ini, mengenai Perda larangan buka warung pada pagi dan siang hari selama bulan puasa.

Meski Perda ini bukan sesuatu yang baru, namun saya masih belum menemukan alasan rasional mengapa perda ini perlu dicantumkan.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak setuju dengan adanya Perda tersebut.

Pertama, Seperti kalimat pembuka pada tulisan ini, puasa adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Bahwa urusan berpuasanya seseorang tidak ada hubungannya dengan jam buka tutup warung. Jika niat dan iman kamu kuat jangankan melihat makanan bahkan ditawari makan pun kamu pasti akan menolak.

Kedua, esensi berpuasa sesungguhnya bukanlah menahan makan dan minum belaka. Melainkan menahan diri dari segala nafsu dan aktifitas yang kurang baik. Bekata kasar, bergunjing, menyakiti perasaan orang lain, dll. Dengan adanya perda seperti ini menurut saya jusrtu menurunkan esensi puasa itu sendiri bahwa puasa itu urusan perut. Sehingga hal-hal yang berkaitan dengan perut dilarang untuk dilakukan selama masa puasa.

Ketiga, Perda seperti ini bisa merugikan masyarakat pelaku usaha kecil menengah yang menggantungkan hidup dari usaha rumah makannya. Bagi orang yang pro barangkali orang tersebut belum pernah terjun dalam bisnis rumah makan seperti ini. Bahwa banyak usaha kecil seperti ini adalah usaha hari itu juga. Artinya kalau dia tidak membuka usahanya hari itu maka tidak ada pendapatan yang dia peroleh hari itu juga. Bayangkan bila sebulan?

Saya khawatir jangan sampai kebijakan yang kita buat justru tidak meningkatkan ibadah puasa kita kepada Allah tetapi malah mematikan sumber rizki orang lain. Habluminallah kita haruslah mencerminkan habluminannas kita

Dalam pandangan ini, saya sependapat dengan walikota Bandung, Ridwan Kamil dan banyak walikota-walikota lain se-Indonesia yang hanya memberi himbauan kepada warganya bila membuka warung makan maka dibuat lebih tertutup dibanding hari lainnya, bukan ditutup sepenuhnya

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar