Belajar Menjadi Guru dalam OSN 2013 (1)

Saya sering membaca cerita-cerita inspiratif tentang ide, pemikiran dan pengalaman orang lain yang mereka tuangkan dalam blog pribadinya masing-masing. Diantaranya, beberapa blog pribadi  milik teman-teman kampus sendiri, teman-teman mahasiswa di luar Sulawesi dan tidak sedikit milik orang lain yang bahkan tidak dikenal. Hingga akhirnya saya membaca Manufacturing Hope, sebuah blog pribadi milik menteri BUMN, Dahlan Iskan. Entah karena dorongan apa saya jadi terinspirasi untuk menuliskan ide, pemikiran dan pengalaman saya dalam sebuah blog pribadi ini sama seperti beliau. Padahal keinginan ini sebenarnya sudah tertanam sejak lama, namun rasa malas untuk menulis ternyata begitu besar. Sejak posting tulisan perdana beberapa bulan lalu, baru hari ini rasanya ada keinginan kuat untuk konsisten menulis kembali. Mungkin, saya harus berterima kasih kepada pak Dahlan jika saya berkesempatan bertemu dengannya esok hari?

Baiklah, sebenarnya saya agak kebingunan menulis topik apa hari ini. Hm mungkin akan saya ceritakan pengalaman saya baru-baru ini ketika mengikuti pelatihan guru pembimbing Olimpiade mata pelajaran di Bandung beberapa waktu yang lalu saja ya.
Kisahnya dimulai pada tanggal 30 September 2013, waktu itu saya mengikuti Seminar Internasional yang diadakan oleh International Office Untad. Sore hari sekitar jam 4 saya mendapat telpon dari Kak Tri. Kak Tri ini sebenarnya senior saya, Fisika MIPA angkatan 2003 yang telah diangkat menjadi guru honor di SMA Al-Azhar, bukan sekolah negeri melainkan sekolah swasta milik sebuah Yayasan Al-Azhar Palu.
Seminar International Stregting Research yang diadakan International Office Untad 

“Satrio, ada dimana?”
“di kampus, ada apa kak Tri?”
“Mau tidak ikut ke Bandung, kira-kira tanggal 2 sampai tanggal 6 September begitu?”
“eh? Ngapain kak Tri?”
“ada semacam kegiatan simposium begitulah, yang siswanya lolos OSN guru-guru pembimbingnya di undang buat ikut pelatihan. Tenang saja, ongkos transportasi, makan dan penginapan semuanya di tanggung. Pokoknya gratis. Bagaimana? Mau ga?”
“Mau sih mau, tapi saya merasa ga pantas ini kak Tri, melatih Sofi aja Cuma 2 minggu masa sudah dapat kepercayaan seperti ini”
“beh, sudah ikut saja. Besok pagi temui kepala sekolah di kantornya. Ok?”
“iya”

Seperti itulah kira-kira pembicaraan saya di telpon waktu itu. Sejujurnya saya merasa sangat beruntung hari Jumat itu. Pertama, karena saya dapat undangan mengikuti seminar Internasional gratis yang pesertanya sangat terbatas, kedua, saya dapat undangan bisa jalan-jalan ke kota bunga dengan gratis pula. Bukankah saya beruntung? Oh iya soal mengapa saya bisa dapat undangan gratis ini akan saya ceritakan.
Waktu itu awal bulan Mei, teman saya, Agung menawarkan sebuah proyek kepada saya. Katanya ada job mengajar anak-anak SMA materi olimpiade astronomi. Bayarannya pas buat kantong mahasiswa. Pokoknya dia yakinkan saya kalau saya pasti bisa. Nah kebetulan saya sewaktu SMA penah mengikuti event ini (walaupun tidak tembus sampai provinsi :D) dan saat itu saya lagi butuh uang, maka saya terimalah pekerjaan tersebut. Lah kenapa saya yang diberi job? Sebenarnya yang ditawari adalah dosen kami, namun berhubung beliau sibuk maka tawaran tersebut diberikan kepada teman saya Agung. Sebernarnya Agung itu orang paling pintar dikelas kami, tapi karena orangnya sedikit malas untuk mengajar maka tawaran tersebut diberikan kepada saya. Saya tidak tahu job ini sebuah keberuntungan atau justru beban bagi saya nantinya.
Tapi baiklah, saya terima.
Alhamdulillah, walupun dengan sedikit gugup pada awalnya saya berhasil menyelesaikan materi saya selama 2 minggu full dengan baik. Minggu pertama dihabiskan buat bahas teori, minggu berikutnya dihabiskan buat bahas soal-soal olimpiade. Dan di hari terakhir ditutup dengan ujian Try Out serta nonton bareng film October Sky yang sangat menginspirasi mereka. Tidak lupa selama dua minggu itu saya terus menyuntikan motivasi belajar dan berprestasi baik berupa sms maupun ketika istirahat diskusi. Dua minggu itu terasa begitu menyenangkan, karena merupakan pengalaman pertama saya menjadi guru sekaligus pengalaman pertama memiliki tujuh orang murid yang hebat-hebat.
Seminggu kemudian hasil bimbingan saya pun keluar, 2 dari 3 murid saya yang didelegasikan mewakili sekolah jadi yang terbaik ditingkat kotamadya. Sofwiyatul Banat diperingkat pertama dan Ratika diperingkat ketiga menjadi yang terbaik se-kota Palu. Ini merupakan prestasi yang luar biasa karena berhasil mengalahkan sekolah-sekolah unggulan seperti SMA Madani, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3 dan SMAN 5. Dan bila jadi yang terbaik di tingkat Kotamadya maka berpeluang besar menjadi yang terbaik di tingkat provinsi. Mengapa? Sebab lawan berikutnya ialah siswa-siswa terbaik ditingkat kabupaten, dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa akses pendidikan dikotamadya jaug lebih baik dibandingkan dikabupaten.
Saya kemudian kembali ditawarkan untuk meneruskan melatih kedua murid saya yang hebat itu untuk persiapan seleksi provinsi. Tetapi saya menolak, sebab selama 2 minggu di akhir Mei sampai awal Juni saya mengikuti dua kegiatan nasional sekaligus. Yang petama, kegiatan Nuclear Yout Summit 2013 di Jogjakarta selama 4 hari dan yang kedua kegiatan Simposium Gelar Karya Mahasiswa Fisika Indonesia sekaligus Kongres IHAMAFI di Manado selama seminggu. Alhasil saya harus mempersiapkan diri saya untuk mengikuti kedua kegiatan ini dan melepas amanah tersebut. Peran saya kemudian digantikan oleh seorang senior saya angkatan 2009, Ifan yang kemudian melatih Sofi dan Ratika buat persiapan menuju Seleksi Provinsi. Alhamdulillah, seperti yang sudah saya duga, Sofi pun keluar sebagai pemenang OSN Astronomi tingkat Provinsi dan akan mewakili Sulawesi Tengah di tingkat Nasional mendatang.
Kembali ke cerita saya di awal, lah kok bisa saya saya yang dapat undangan ikut simposium di Bandung ini? Kenapa bukan kakak senior saya, Ifan? Itu karena setelah kakak senior saya Ifan menghantarkan Sofi jadi juara di Provinsi beliau langsung menuntaskan kewajibannya untuk KKN selama 2 bulan full. Dan berhubung kegiatan symposium ini beliau belum selesai KKN maka sayalah yang ditarik untuk mengikuti kegiatan symposium tersebut. Nah, seperti yang saya bilang, bukankah saya ini beruntung? 😀

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

One comment: On Belajar Menjadi Guru dalam OSN 2013 (1)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar