#1 Bahasa Inggris Adalah Musuh Saya Nomor Satu

Satrio Amrullah - Kampung Inggris


Bila para pelajar kebanyakan memusuhi fisika dan matematika, maka saya adalah adalah pelajar yang berbeda. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling saya musuhi dalam hidup.

Ketidaksukaan saya terhadap mata pelajaran ini bukan karena bahasa Inggris itu sulit, tetapi lebih dikarenakan mempelajari bahasa asing tersebut telah mengusik rasa nasionalisme yang ada dalam diri saya.

Dalam raga saya yang masih remaja kala itu, saya melihat banyak orang-orang disekitar saya merasa bangga bila ia bisa menguasai bahasa asing dengan baik. Mereka akan tersenyum dengan penuh percaya diri ketika bisa berpidato dalam bahasa asing, atau mengucapkan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari. Mereka juga bangga bila sukses menghafalkan dan menyayikan lirik lagu-lagu barat. Mereka merasa bahagia bisa mampu menuliskan quotes-quotes bahasa asing dalam status facebook mereka. Tidak ketinggalan mereka akan merasa sangat keren bila menggunakan nama atau tema kegiatan dalam bahasa Inggris. Seolah-olah bila menggunakan bahasa sendiri itu kalah keren, kalah gaul, katro, kampungan.

Tidak hanya itu, banyak diantara mereka bahkan menggunakan bahasa Indonesia dengan pengucapan atau cara tulis yang b3Nar2 4l4y. Ketika menulis status dalam bahasa asing mereka akan memperhatikan diksi dan grammarnya dengan sempurna. tetapi ketika menulis dalam bahasa Indonesia, tulisan disingkat-singat, tidak peduli hurufnya sempurna atau tidak, huruf jadi angka, angka jadi huruf, -yang menjadi yg, -a menjadi 4, -nya menyadi x, dan sebagainya.

Maka sejak saat itu, saya menjadi orang yang anti dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Sebab bagi saya itu adalah ironi. Mempelajari bahasa asing hanya akan membuat kita akan selalu jadi bangsa yang inferior. Bangsa yang tidak percaya diri dengan bahasanya sendiri. Padahal puluhan tahun yang lalu kita telah bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Sepanjang itulah, bahasa Inggris telah menjadi satu-satunya mata pelajaran yang paling tidak ikhlas saya pelajari dalam hidup. Hingga tidak ada satu pun dari pelajaran tersebut yang terserap dalam otak saya. Mereka seperti masuk dari telinga kanan, lalu keluar ke telinga kiri. Sampai hari ini, saya merasa bisa lulus UN dengan nilai bahasa Inggris yang standar kala itu, bagi saya adalah sebuah keajaiban.

Pemikiran dan kebodohan saya terhadap bahasa Inggris tersebut lambat laun membawa masalah dikemudian hari.

*Bersambung

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar