Akhir Tanggap Darurat

Fase Tanggap Darurat - Satrio Amrullah

Hari ini fase tanggap darurat bencana Sulteng dinyatakan berakhir, dan selanjutnya memasuki fase transisi dari darurat ke pemulihan. Tahapan ini akan dimulai besok hingga 60 hari kedepan.

Situasi kota Palu dan sekitarnya dinyatakan telah kondusif. Pembersihan puing dan sampah sudah mencapai 70 persen, rumah sakit dan puskesmas telah beroperasi, aktifitas belajar mengajar di sekolah juga sudah berjalan, demikian juga dengan pasar, perkantoran dan pertokoan juga sudah buka satu persatu. Berbagai aktifitas yang menggerakkan roda perekonomian berangur-angsur membaik.

Sebagian masyarakat yang trauma sudah mulai kembali menempati rumahnya masing-masing. Mereka yang eksodus keluar kota perlahan-lahan datang kembali. Banyak dari mereka penasaran melihat dampak yang ditimbulkan bencana, menjadikan lokasi terdampak seperti; Balaroa, Petobo dan Jono Oge seolah menjadi destinasi rekreasi baru. Buat vlog, foto selfie dan update status di lokoasi bencana barangkali adalah upaya menghibur diri serta melupakan kengerian yang pernah terjadi disana.

Ribuan relawan tanggap darurat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga mancanegara, mulai berpamitan meninggalkan kota Palu dan sekitarnya. Aksi kemanusiaan dari berbagai instansi, organisasi, LSM, komunitas dan mandiri, berhasil meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi ribuan warga terdampak. Tak ada kata lain yang dapat dihaturkan selain ucapan terima kasih serta iringan doa semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada warga Palu dan sekitarnya kelak dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hari ini dan hari-hari berikutnya, tantangannya mungkin akan berbeda. Fase tanggap darurat benar telah berakhir, tapi tak berarti fase transisi hingga pemulihan tak memiliki masalah. Masih ada pengangguran terbuka, peningkatan kemiskinan, pembangunan hunian sementara, kompensasi atas tanah dan rumah warga, peluang korupsi, konflik kepentingan, pencurian dan kriminalitas, mental peminta-minta hingga bagaimana cara menarik kembali investor untuk memulihkan perekonomian Sulteng. Semua itu adalah pekerjaan rumah kedepan, dimana kita belum pernah melaluinya. Maka dukungan dan dorongan dari berbagai pihak untuk meyakinkan bahwa Palu, Sigi dan Donggala bisa bangkit kembali mutlak diperlukan.

Ini memang bukan lagi fase meratapi kehilangan, tetapi fase menyakinkan diri untuk bangkit berdiri, bahwa masih ada kehidupan yang lebih baik yang harus kita lalui di depan.

Saya jadi teringat ketika menemani teman relawan asal Aceh seminggu lalu, mereka juga pernah menjadi korban terdampak tsunami pada 2004. Apa yang mereka lalui jauh lebih sulit dari apa yang terjadi di Palu dan sekitarnya. Saat kita merasakan gempa 7,4 SR, mereka merasakan getaran 9,1 SR. Saat kita dihantam ombak tsunami setinggi 3-6 meter, mereka dihantam ombak setinggi 30 meter, saat kita kehilanggan 2.000 jiwa korban meninggal, mereka kehilanggan 170.000 jiwa korban tewas.

Apa yang bisa kita saksikan hari ini? Aceh bisa bangkit kembali. Serambi Aceh menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelum bencana. Kita pun harusnya jauh lebih bisa. Menjadikan bencana ini sebagai momentum untuk membangun kota Palu yang lebih baik lagi, yang lebih kokoh, yang lebih berkelanjutan dengan mempertimbangkan kondisi geologi dan faktor-faktor alam lainnya. Hingga 10 tahun kedepan, Palu tidak hanya menjadi kota yang futuristik tetapi menjadi kota percontohan siaga bencana.

Semoga.

Seorang pemimpi. Laki-laki akhir zaman yang ingin mengubah dunia dengan tangannya

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar